Al_Ghazali

Ihya Ulumuddin – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Lompat ke isi Menu utama Menu utama pindah ke bilah sisi sembunyikan Navigasi Halaman Utama Daftar isi Perubahan terbaru Artikel pilihan Peristiwa terkini Halaman baru Halaman sembarang Komunitas Warung Kopi Portal komunitas Bantuan Wikipedia Tentang Wikipedia Pancapilar Kebijakan Menyumbang Hubungi kami Bak pasir Bagikan Pencarian Cari Buat akun baru Masuk log Perkakas pribadi Buat akun baru Masuk log Halaman penyunting yang telah keluar log pelajari lebih lanjut Kontribusi Pembicaraan Daftar isi pindah ke bilah sisi sembunyikan Awal 1 Topik pembahasan 2 Minhajul Qashidin 3 Mukhtasar Minhajul Qashidin 4 Catatan kaki 5 Pranala luar Gulingkan daftar isi Ihya Ulumuddin 16 bahasa العربية مصرى English Español فارسی Français Galego עברית മലയാളം Bahasa Melayu پنجابی سنڌي سرائیکی Türkçe ئۇيغۇرچە / Uyghurche اردو Sunting pranala Halaman Pembicaraan Bahasa Indonesia Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Perkakas Perkakas pindah ke bilah sisi sembunyikan Tindakan Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Umum Pranala balik Perubahan terkait Halaman istimewa Pranala permanen Informasi halaman Kutip halaman ini Lihat URL pendek Unduh kode QR Butir di Wikidata Cetak/ekspor Buat buku Unduh versi PDF Versi cetak Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ihya Ulumuddin Mukhtasar Minhajul Qashidin ringkasan Minhajul Qashidin revisi dari Ihya Ulumuddin Pengarang Imam Al-Ghazali Bahasa Bahasa Arab dengan beragam terjemahan Genre Tazkiyatun Nafs Penerbit Beragam Tanggal terbit circa 500-an H (1100-an M) Diikuti oleh Minhajul Qashidin, dll Ihya Ulumuddin atau Al-Ihya merupakan kitab yang membahas tentang kaidah dan prinsip dalam menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs) yang membahas perihal penyakit hati, pengobatannya, dan mendidik hati. Kitab ini merupakan karya yang paling terkenal dari Imam Al-Ghazali . Hanya saja kitab ini memiliki kritikan, yaitu meskipun Imam Ghazali merupakan seorang ulama namun dia bukanlah seorang yang pakar dalam bidang hadits, sehingga ikut tercantumlah hadits-hadits tidak ditemukan sanadnya, berderajat lemah maupun maudhu. Hal ini menyebabkan banyak ulama dan para ahli hadits yang kemudian berupaya meneliti, memilah dan menyusun ulang terhadap takhrij hadits yang termuat di dalam Ihya Ulumuddin. Di antaraulama ahli hadits yang menyusun ulang kitab hadits berdasarkan Ihya Ulumuddin ini adalah Imam Ibnul Jauzi dan Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi yang menulis kitab Minhajul Qashidin dan ikhtisarnya (Mukhtasar). [1] Topik pembahasan [ sunting | sunting sumber ] Kitab Ihya Ulumudin ( احياء علوم الدين ) memiliki tema utama tentang kaidah dan prinsip dalam penyucian jiwa yakni menyeru kepada kebersihan jiwa dalam beragama, sifat takwa, konsep zuhud , rasa cinta yang hakiki, merawat hati serta jiwa dan sentiasa menanamkan sifat ikhlas di dalam beragama. Kandungan lain dari kitab ini berkenaan tentang wajibnya menuntut ilmu, keutamaan ilmu, bahaya tanpa ilmu, persoalan-persoalan dasar dalam ibadah seperti penjagaan thaharah dan salat , adab-adab terhadap al-Qur’an , dzikir dan doa, penerapan adab akhlak seorang muslim di dalam pelbagai aspek kehidupan, hakikat persaudaraan (ukhuwah), bimbingan memperbaiki akhlak, bagaimana mengendalikan syahwat, bahaya lisan, mencegah sifat dengki dan emosi, zuhud, mendidik rasa bersyukur dan sabar, menjauhi sifat sombong, ajakkan sentiasa bertaubat, pentingnya kedudukan tauhid, pentingnya niat dan kejujuran, konsep mendekatkan diri kepada Allah (muraqabah), tafakur, mengingati mati dan rahmat Allah, dan mencintai Rasulullah ﷺ. Minhajul Qashidin [ sunting | sunting sumber ] Kitab Ihya Ulumuddin kemudian di teliti dan dikerjakan ulang oleh Imam Ibnul Jauzi (597 H) lalu hasil pengerjaannya tersebut diberi nama Minhajul Qashidin wa Mufidush Shadiqin . Usaha Ibnul Jauzi dalam melakukan pengerjaan ulang kitab terhadap Ihya Ulumuddin ini dianggap begitu penting dan kompeten. Karena selain Ibnul Jauzi memiliki kesamaan dengan Imam Al-Ghazali di dalam hal disiplin keilmuan yang dikuasai. Imam Ibnul Jauzi memiliki kelebihan penguasaan yang ahli terhadap ilmu hadits, baik dari sisi riwayah maupun dirayah; sanad maupun matannya . Pengerjaan ulang oleh Ibnul Jauzi berfokus kepada penelitian ulang derajat hadits-hadits yang ada, kemudian melakukan eliminasi terhadap hadits-hadits yang maudhu, dhaif dan mauquf dan kemudian dia gantikan dengan dalil yang shahih dan hasan, sehingga didapatkan sebuah kitab yang kokoh sebagai pegangan. Berkata Ibnul Jauzi tentang latar belakang dan metode penyusunan kitabnya: “Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali memiliki beberapa kekurangan yang hanya pakar/ahli ilmu (hadits) yang menyadarinya (mengenalinya), seperti pada riwayat yang disandarkan kepada Nabi ﷺ namun ternyata maudhu atau tidak shahih. Oleh karena itu, aku menyusun sebuah buku yang terbebas dari masalah tersebut tadi, dengan tetap mempertahankan keutamaan (kebaikan) dari kitab aslinya (Al-Ihya). Dalam kitabku ini, aku bersandar hanya pada riwayat yang asli dan terkenal, dan aku hilangkan atau tambahkan dari kitab aslinya (Al-Ihya) apa yang dirasa perlu.” [2] Mukhtasar Minhajul Qashidin [ sunting | sunting sumber ] Kitab Minhajul Qashidin merupakan sebuah kitab yang cukup tebal, sehingga mungkin tidak setiap kalangan mau dan mampu memanfaatkannya dengan baik. Kemudian kitab tersebut dibuat ringkasannya oleh Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi . Bila dahulu Imam Ibnul Jauzi fokus kepada penelitian hadits-haditsnya, kitab mukhtasar ini sesuai dengan namanya, bertujuan kepada peringkasan dan membuat intisari dari kitab sebelumnya agar lebih ringkas, teratur, dan mudah dipahami. Juga ditambahkan penjelasan serta tambahan faedah yang diperlukan. Sehingga menjadi sebuah kitab yang mudah bagi para pelajar maupun masyarakat awam untuk memanfaatkannya. [3] Ibnu Qudamah berkata tentang latar belakang dan metode penyusunan kitabnya: “Ketika aku membaca kitab Minhajul Qashidin karya Ibnul Jauzi, aku merasa bahwa kitab ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Jadi aku memutuskan untuk membacanya sekali lagi dengan tujuan untuk menyerap makna yang lebih dalam. Setelah membacanya untuk kedua kalinya, kekagumanku atas buku ini semakin bertambah. Aku mendapatinya begitu terstruktur dan aku ingin untuk memfokuskan pada poin-poinnya yang penting dan obyektif. Demi menempuh hal itu, aku tinggalkan beberapa topik, yang sudah banyak terdapat dalam kitab-kitab yang terkenal. Juga aku tidak menyusunnya sesuai urutan kitab aslinya, lalu aku tambahkan pula catatan tambahan yang diperlukan seperti hadits dan komentar”. [2] Catatan kaki [ sunting | sunting sumber ] ^ Selain mereka berdua, berikut kitab-kitab yang ditulis berdasarkan kitab Al-Ihya berupa komentar maupun takhrij (hadits); Al-Hafizh Ibnu Hajar telah mengarang sebuah kitab yang berjudul: ‘Al-Istidrak ala takhrijul Ihya” karangan gurunya Al’Iraaqi, yang telah disebut-kan oleh Al Hafizh As Sakhawi dalam kitab Al Jawahir Wad Durar (153 a). Al-Hafizh Al-‘Iraaqi telah mengarang tiga buah kitab untuk mentakhrij (hadits-hadits yang ada) dalam Kitab Al Ihya: Ikhbarul ahya bi akhbaril ahya secara panjang lebar Alkasyful mu’min an takhrij Ihya Ulumuddin, yang sedang Al Mughni an Hamlil Asfar fil Asfar fi takhrij ma fil Ihya minal akhbar dan yang ini adalah ringkasannya, ketiga Kitab di atas telah disebutkan oleh Ibnu Fahd dalam kitab Lahzhul Al-Haazh (hal. 230-231). Ibnul Munayyir Al Iskandari telah menulis sebuah kitab yang berjudul: “Adh-Dhoyaul mutaka lii fii ta’aqqubi al-Ihya lil ghazali” sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Az-Zabiidi dalam kitab Syahrul Ihya (1/33). Al-Hafizh Al Qasim bin Quthlubughaa pun telah mengarang sebuah kitab yang berjudul: Tuhfatul Ahya fii maa faata min takhrijil Ihya sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al Haaj Khalifah dalam kitab Kasyfu Az Zunuun (I/24). Tajuddin As-Subki (771 H), Dia berkata dalam (kitab) Thabaqat Asy-Syafi’iyyah jilid 4 hal 145 dalam biografi Al-Ghazali: Di pasal ini aku kumpulkan semua hadits yang ada di kitab Al-Ihya yang belum aku dapatkan sanadnya. ^ a b Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah; Daar Al-Manarah Mesir, bagian Mukadimah. ^ Berikutnya kitab inipun juga dikerjakan kembali oleh para ulama kontemporer, di antaranya oleh Ridwan Jami’ yang memberikan takhrij bagi setiap hadits yang dibawakan di dalam Mukhtasar Minhajul Qashidin dengan takhrij hadits yang berasal dari kitab-kitab milik Al-Albani (1407 H). Pranala luar [ sunting | sunting sumber ] Daftar pustaka Mukhtashar Minhajul Qashidin; Ibnu Qudamah. Buku elektronik (Arab) Mukhtashar Minhajul Qashidin Diperoleh dari ” https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ihya_Ulumuddin&oldid=25649425 ” Kategori : Literatur Sunni Tazkiyatun Nafs Halaman ini terakhir diubah pada 30 April 2024, pukul 15.20. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons ; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian lebih lanjut. Kebijakan privasi Tentang Wikipedia Penyangkalan Kode Etik Pengembang Statistik Pernyataan kuki Tampilan seluler Gulingkan lebar konten terbatas
Ibnu Sina – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Lompat ke isi Menu utama Menu utama pindah ke bilah sisi sembunyikan Navigasi Halaman Utama Daftar isi Perubahan terbaru Artikel pilihan Peristiwa terkini Halaman baru Halaman sembarang Komunitas Warung Kopi Portal komunitas Bantuan Wikipedia Tentang Wikipedia Pancapilar Kebijakan Menyumbang Hubungi kami Bak pasir Bagikan Pencarian Cari Buat akun baru Masuk log Perkakas pribadi Buat akun baru Masuk log Halaman penyunting yang telah keluar log pelajari lebih lanjut Kontribusi Pembicaraan Daftar isi pindah ke bilah sisi sembunyikan Awal 1 Biografi Gulingkan subbagian Biografi 1.1 Kehidupan Awal dan Pendidikan 1.2 Karir dan Pergolakan Politik 1.3 Periode Stabil di Isfahan 1.3.1 Mendalami Bahasa Arab 1.4 Jatuhnya Isfahan dan Masa Tua 2 Pemikiran Ibnu Sina Gulingkan subbagian Pemikiran Ibnu Sina 2.1 Metafisik 2.2 Teologi 2.3 Eksperimen pikiran 3 Bibliografi 4 Lihat pula 5 Referensi Gulingkan daftar isi Ibnu Sina 147 bahasa Afrikaans Alemannisch አማርኛ Aragonés العربية مصرى Asturianu Azərbaycanca تۆرکجه Башҡортса Boarisch Žemaitėška Беларуская Беларуская (тарашкевіца) Български भोजपुरी Bislama Banjar বাংলা Brezhoneg Bosanski Буряад Català Нохчийн Cebuano کوردی Qırımtatarca Čeština Чӑвашла Cymraeg Dansk Deutsch Zazaki Ελληνικά English Esperanto Español Eesti Euskara Estremeñu فارسی Suomi Français Frysk Gaeilge 贛語 Kriyòl gwiyannen Galego گیلکی Avañe’ẽ Bahasa Hulontalo Hausa עברית हिन्दी Fiji Hindi Hrvatski Magyar Հայերեն Interlingua Ilokano ГӀалгӀай Íslenska Italiano 日本語 Patois Jawa ქართული Qaraqalpaqsha Taqbaylit Kabɩyɛ Қазақша ಕನ್ನಡ 한국어 कॉशुर / کٲشُر Kurdî Kernowek Кыргызча Latina Limburgs Ladin Lombard Lietuvių Latviešu Malagasy Minangkabau Македонски മലയാളം Монгол मराठी Bahasa Melayu Mirandés မြန်မာဘာသာ Эрзянь Plattdüütsch Nederlands Norsk nynorsk Norsk bokmål Occitan ਪੰਜਾਬੀ Polski Piemontèis پنجابی پښتو Português Română Русский Русиньскый संस्कृतम् Саха тыла ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ سنڌي Srpskohrvatski / српскохрватски Simple English Slovenčina سرائیکی Slovenščina Soomaaliga Shqip Српски / srpski Sunda Svenska Kiswahili தமிழ் తెలుగు Тоҷикӣ ไทย Türkmençe Tagalog Tolışi Türkçe Татарча / tatarça Тыва дыл ئۇيغۇرچە / Uyghurche Українська اردو Oʻzbekcha / ўзбекча Vepsän kel’ Tiếng Việt Winaray 吴语 მარგალური ייִדיש Yorùbá Vahcuengh 中文 閩南語 / Bân-lâm-gú 粵語 Sunting pranala Halaman Pembicaraan Bahasa Indonesia Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Perkakas Perkakas pindah ke bilah sisi sembunyikan Tindakan Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Umum Pranala balik Perubahan terkait Halaman istimewa Pranala permanen Informasi halaman Kutip halaman ini Lihat URL pendek Unduh kode QR Butir di Wikidata Cetak/ekspor Buat buku Unduh versi PDF Versi cetak Dalam proyek lain Wikimedia Commons Wikikutip Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ibnu Sina ابن سینا Ibn Sīnā ( Arab ) Lahir c. 980 Afshona, Peshkunskiy, Bukhara , Dinasti Samaniyah Meninggal Juni 1037 – 980; umur -58–-57 tahun Hamadan , Emirat Kakuyid Tempat tinggal Bukhara era Samaniyah Gurganji era Ma’muniyah Gorgan era Ziyariyah Ray dan Hamadan era Buwaihi Nama lain Sharaf al-Mulk Hujjat al-Haq Sheikh al-Rayees Ibn-Sino (Abu Ali Abdulloh Ibn-Sino) Bu Alī Sīnā ( بو علی سینا ) Latar belakang akademis Dipengaruhi Hippokrates Aristoteles Galen Neoplatonisme al-Kindi al-Farabi Al Razi Al-Biruni al-Masihi Abul Hasan Hankari Karya akademis Era Zaman Keemasan Islam Minat utama Filsafat Ilmu Kalam Sains Sastra Karya terkenal Kitab Penyembuhan Qanun Kedokteran Memengaruhi Al-Biruni Omar Khayyám Ibnu Rusyd Shahab al-Din Suhrawardi Tusi Ibn al-Nafis Ibn Tufail Albertus Magnus Maimonides Aquinas William dari Ockham Abu ‘Ubayd al-Juzjani Ibnu Sina ( Arab : ابن سینا , translit. Ibn Sīnā ; 980 – Juni 1037 M), yang di Barat dikenal dikenal sebagai Avicenna , adalah seorang muslim Mu’tazilah polimat yang dipandang sebagai dokter, astronomer, dan penulis terpenting dari Zaman Keemasan Islam ; [1] [ tepercaya? ] dan dianggap sebagai filsuf paling berpengaruh di era pra-modern. [2] Bagi banyak orang, dia adalah “Bapak Kedokteran Modern”. Dari sekitar 450 judul yang ditulisnya, 240 di antaranya selamat dan bertahan hingga hari ini, yang di antaranya terdapat 240 judul dalam bidang filsafat dan 40 judul dalam pengobatan. [3] Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Qānūn fī al-Thibb (Buku Pengobatan), sebuah ensiklopedia medis yang menjadi buku rujukan dan standar di bidang kedokteran pada berbagai universitas dan terus digunakan selama berabad-abad hingga sekitar tahun 1650. [4] Ibnu Sina ( Arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا , translit. Abū ‘Alī al-Husain bin ‘Abdullāh bin Sīnā ) lahir pada 980 di Afsyanah daerah dekat Bukhara (sekarang wilayah Uzbekistan ) dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan , Persia (sekarang Iran ). Pada masa itu Kesultanan Samaniyah di Bukhara sedang diguncang konflik internal, setelah sebelumnya menjadi salah satu sentral kebudayaan menyaingi Baghdad . Ayahnya berasal dari Balkh, sedangkan ibunya berasal dari desa setempat di sekitar Bukhara. Biografi [ sunting | sunting sumber ] Ibnu Sina menulis sebuah autobiografi untuk muridnya yang bernama Abu ‘Ubayd Juzjani , yang kemudian dilengkapi oleh muridnya tersebut dengan bab penutup. [5] Naskah autobiografi ini, yang berakhir hingga periode di Gorgon sekitar tahun 1013/1014, [6] kemudian dimasukkan oleh Ibnu Abi Ashaybi’ah dalam karyanya yang berjudul ’Uyūn al-Anbā’ fī Thabaqāt al-Athibbā’ (Sejarah Literatur Bidang Kedokteran). [7] [8] Inilah yang menjadi rujukan utama kisah hidup Ibnu Sina, di luar catatan-catatan lain yang diberikan para penulis muslim. Menurut penuturan Ibnu Sina, ayahnya berasal dari Balkh di wilayah Mazar-i Syarif (sekarang Afghanistan), yang pindah ke Bukhara pada masa pemerintahan Nuh bin Mansyur (berkuasa 976 – 997). [1] [8] Di sana ayahnya diangkat sebagai gubernur Harmaytsan, sebuah propinsi di Bukhara; dan di sana pula ayahnya bertemu dengan ibunya di sebuah desa bernama Afsyanah hingga akhirnya menikah. Nuh bin Mansyur naik tahta pada 976 dalam usia masih sangat muda, sehingga harus dibantu ibunya menjalankan roda pemerintahan, serta seorang wazir bernama Abu Husain ‘Uthbi . [9] Saat itu Kesultanan Samaniyah sedang menghadapi gejolak internal dan eksternal. Selain harus menghadapi persaingan kekuasaan antar pangeran, Nuh bin Mansyur juga harus menghadapai pertempuran di utara dan selatan. Di utara, Khanat Kara-Khanid menyerang dan mengambil Lembah Zarafshan, di mana terdapat tambang perak Kesultanan Samaniyah, dan pada 980 Khanat Kara-Khanid sudah menguasai wilayah Isijab. Sementara itu di selatan, Dinasti Buwaihi (Buyid) yang telah menguasai Baghdad dan menjadikan Abbasiyah hanya sebagai simbol kekhalifahan, tengah dipimpin ‘Adud al-Dawla yang sangat kuat. Nuh bin Mansyur mencoba melakukan ekspedisi melawan Dinasti Buwaihi pada 982, tetapi berhasil dipatahkan ‘Adud al-Dawla. Tetapi setahun kemudian ‘Adud al-Dawla dan Dinasti Buwaihi mulai mengalami keruntuhan. Pada tahun 992, Kara-Khanid merebut ibukota Bukhara di bawah seorang khan bernama Harun Bughara, namun dia meninggal tidak lama setelah penaklukan tersebut sehingga Nuh bin Mansyur bisa mengambil alih kembali Bukhara [10] atas bantuan Sultan Abu ‘Abdallah Muhammad dari Dinasti Afrighiyah . [11] Namun setelah Nuh bin Mansyur meninggal pada 997, tidak ada syah pengganti yang cukup kuat untuk memimpin Kesultanan Samaniyah. Saat Kara-Khanid kembali menyerang Samaniyah pada 999, Bukhara akhirnya jatuh dan Kesultanan Samaniyah lenyap. [10] Kehidupan Awal dan Pendidikan [ sunting | sunting sumber ] Kesultanan Samaniyah (819–999) pada puncak kejayaannya. Kota Balkh (atau Bactria), tempat asal ayah Ibnu SIna, tampak berada di bawah Bukhara. Ayah Ibnu Sina berasal dari Balkh , yang pindah ke Bukhara dan menjadi gubernur sebuah wilayah penting bernama Harmaytsan. [1] Di dekat Harmaytsan, terdapat sebuah desa bernama Afsyanah, di mana ayah dan ibunya bertemu kemudian menikah dan menetap di sana. Di desa itulah Ibnu Sina lahir pada tahun 980, dan tidak lama disusul oleh adiknya. Pada kurun itu ketegangan antara Kesultanan Samaniyah dengan Khanat Kara-Khanid di utara dan Dinasti Buwaihi di selatan tengah memanas. Ketika Ibnu Sina cukup besar, keluarga itu pindah ke Bukhara. Di ibukota Samaniyah itu Ibnu Sina mulai mendapat pendidikan yang lebih baik. Ayahnya mendatangkan guru khusus Al-Quran dan guru Sastra Arab ( Adab , Literatur) untuk mengajar kedua putranya. Menurut Ibnu Sina, saat dirinya genap berusia 10 tahun, dia telah hapal Al-Quran serta berbagai teks sastra lainnya. [7] [8] Perkenalan awal Ibnu Sina dengan filsafat terjadi karena sering mendengarkan perdebatan ayahnya yang kerap didatangi orang-orang Mesir pengikut Ismailiyah , [1] [8] dan dari mereka itulah ayahnya, Ibnu Sina, dan adiknya mulai mengenal istilah-istilah jiwa dan akal dalam perspektif Ismailiyah. Sebagaimana diceritakan Ibnu Sina: [8] Mungkin karena saya kerap mendengar mereka berdiskusi maka saya pun mulai memahami pembicaraan pengikut Ismailiyah ini, namun jiwa saya tidak kunjung dapat menerima apa yang mereka bicarakan. Karena itu mereka pun mulai mengajak saya berdiskusi tentang berbagai hal [terutama terkait jiwa dan akal] melalui berbagai pendekatan filsafat, geometri, dan aritmetika Hindia. Ayah tampaknya kurang senang melihat hal itu, sehingga untuk sementara waktu ayah mengirimku kepada seorang pedagang herbal yang menguasai aritmetika Hindia sehingga aku pun dapat mempelajari ilmu tersebut darinya. Selain belajar aritmetika Hindia, Ibnu Sina juga kerap mendatangi Ismail al-Zahid, seorang sufi dan ulama madzhab Hanafi yang terkenal di Bukhara, untuk belajar fiqih dan yurisprudensi, hingga mahir untuk melakukan pembelaan hukum sesuai kebiasaan zaman itu. [7] [8] Tidak lama dari itu, setelah pendidikan agamanya dirasa cukup, seorang filsuf bernama Abu Abdullah An-Natili datang ke Bukhara dan tinggal di rumah keluarga Ibnu Sina atas undangan ayahnya, dengan imbalan mengajar filsafat kepada Ibnu Sina. Darinya Ibnu Sina mulai belajar Isagoge karya Porfirios , yang merupakan standar pengajaran filsafat sebelum masuk ke logika Aristoteles. [1] Setelah itu Ibnu Sina mempelajari logika ( ilmu mantiq ) dari Organon karya Aristoteles, namun An-Natili hanya memberikan pengantar dan Ibnu Sina harus mempelajarinya sendiri; demikian pula saat mempelajari Stoicheia karya Euclid dan Almagest karya Ptolemeaus , An-Natili hanya mengajarnya bab-bab awal dan sisanya dipelajari seorang diri. [7] [8] Menyadari bahwa Ibnu Sina lebih mahir dalam penguasaan filsafat dari dirinya, An-Natili kemudian meninggalkan Bukhara menuju Gurganja, [8] guna mencari murid lain yang lebih membutuhkannya. [1] Maka sejak itu Ibnu Sina mempelajari filsafat seorang diri, mulai dari Fisika (filsafat alam) dan Metafisika karya Aristoteles, berikut berbagai karya pengantar tentangnya, juga berbagai karya tentang pengobatan secara luas dan mendalam. Dan ketika Ibnu Sina berusia 16 tahun, sebagaimana tradisi di Bukhara bagi anak yang menjelang akil baligh, dia pun mulai mendalami fiqih secara khusus. Satu setengah tahun kemudian, atau saat berusia 17 tahun lebih, Ibnu Sina mengulang pelajaran filsafat dari awal, dimulai dari Organon hingga Fisika dan Metafisika . Dalam autobiografinya dikatakan: [8] Hampir setiap malam saya selalu berada di kamarku dengan lampu yang menyala, dan menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Manakala merasa ngantuk atau lelah, biasanya saya istirahat sejenak dan menghabiskan segelas sirup [herbal] hingga kekuatan saya kembali pulih, dan kemudian saya akan meneruskan melahap buku-buku. Setiap kali saya tertidur karena kantuk, saya kerap memimpikan masalah-masalah yang sedang dihadapi hingga ke akarnya. Dan sungguh, betapa banyak masalah menjadi jelas duduk perkaranya dalam mimpi ( ru’ya ) saya. Semua itu saya jalani hingga saya benar-benar menguasai berbagai cabang filsafat, dan saya memahaminya sejauh yang bisa dicapai oleh seorang manusia. Satu-satunya topik filsafat yang tidak dikuasai Ibnu Sina adalah Metafisika Aristoteles . Hingga pada suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di sebuah pasar, dia menemukan sebuah buku karya Al-Farabi berjudul Fi Agrādhi Kitāb Mā Ba’da al-Thabi’ah (Penjelasan atas Buku Metafisika). Dari karya Al-Farabi itulah akhirnya Ibnu Sina bisa memahami Metafisika. [7] [8] Bacaannya yang luas dan intensif, khususnya dalam bidang pengobatan, pada akhirnya membawa Ibnu Sina menjadi tabib penguasa Nuh bin Mansyur, yang kemudian memberinya izin untuk memasuki perpustakaan besar Samaniyah di Bukhara sebagai imbalan atas pengobatan yang diberikannya. Di perpustakaan itu Ibnu Sina menemukan banyak sekali literatur di setiap bilik ruang perpustakaan yang didedikasikan untuk bidang pengetahuan yang berbeda. Di sana, kata Ibnu Sina, dia membaca karya-karya orang zaman dahulu ( al-awa’il ) yang belum pernah dia temui sebelumnya dan tidak pernah dia lihat lagi di kemudian hari, [1] hingga akhirnya Ibnu Sina berkata: [7] Saya membaca buku-buku yang ada, menguasai berbagai pengajaran di dalamnya, serta mengetahui martabat setiap penulis dan penguasaan ilmunya. Maka pada saat saya mencapai usia delapan belas tahun, saya telah melakukan studi di semua cabang ilmu yang ada. Namun demikian, meski saat itu saya telah menguasainya, di usia [tua] sekarang saya merasa lebih matang dalam memahami apa-apa yang telah saya pelajari sebelumnya. Sungguh, ilmu yang telah saya ketahui tidak banyak berubah, tidak ada lagi ilmu baru yang saya dapati setelah dewasa. Karir dan Pergolakan Politik [ sunting | sunting sumber ] Pada suatu ketika Amir Bukhara, Nuh bin Mansyur , menderita sakit yang membuat para tabib istana menyerah. Karena Ibnu Sina telah telah dikenal di Bukhara sebagai kutu buku, para tabib istana memberanikan diri mengajukan namanya untuk didatangkan ke istana. Maka Ibnu Sina pun datang memenuhi undangan tersebut, dan bersama para tabib istana berhasil menyembuhkan sang Syah. [7] Atas keberhasilan itu, para tabib kemudian meminta pangeran Nuh bin Mansyur agar mengizinkan Ibnu Sina mengakses perpustakaan kerajaan. Menurut autobiografinya, Ibnu Sina pertama kali menulis saat masih tinggal di Bukhara, yang dia beri judul Majmu’ (Ringkasan Ilmu) sebagai jawaban atas permintaan tetangganya yang bernama Abu Hussein al-Rouzi. [6] [7] Setelah itu, temannya dari Karazm bernama Abu Bakar Bargy, ahli teologi dan filsafat, memintanya menulis komentar atas filsafat Aristoteles; maka Ibnu Sina menulis Al-Hasil wal-Mahsul (Makna dan Substansi) yang membahas persoalan yurisprudensi dalam 20 jilid, dan Al-Birr wal-Itsm (Kebajikan dan Keburukan) yang membahas masalah etika. [6] [7] Pada Juli 997, tidak lama setelah Ibnu Sina dipanggil ke istana untuk mengobatinya, Sultan Nuh bin Mansyur meninggal, disusul kekalahan Dinasti Samaniyah dari Khanat Kara-Khanid pada 999. [10] Selanjutnya pada 1002 ayahnya juga meninggal di Bukhara saat usia Ibnu Sina sekitar 22 tahun. [7] Kejadian ini membuat kehidupan Ibnu Sina sepenuhnya berubah: kini dia harus menanggung hidupnya sendiri dan harus bekerja menggantikan posisi ayahnya di pemerintahan. [7] Namun, tampaknya hal ini tidak berlangsung lama karena berbagai peristiwa politik yang terjadi pasca runtuhnya Dinasti Samaniyah telah memaksa Ibnu Sina untuk pergi dari Bukhara. Keruntuhan Dinasti Samaniyah menghadirkan perebutan wilayah dan melahirkan penguasa baru, yakni Dinasti Ghaznawiyah , yang awalnya adalah gubernur Samaniyah di Ghazni. Ketika Nuh bin Mansyur berkuasa, dia mengangkat Sabuktigin sebagai gubernur Ghazni pada 977. [12] Lalu ketika terjadi pemberontakan di Khurasan pada 994, Sabuktigin dan putranya Mahmud berhasil memadamkan pemberontakan itu sehingga Nuh bin Mansyur mengangkat Mahmud sebagai gubernur Khurasan. Namun, pada 997 Mahmud berbalik mendukung Kara-Khanid yang saat itu tengah berperang dengan Samaniyah. Maka saat Dinasti Samaniyah runtuh pada 999, Mahmud mengklaim wilayah Khurasan, Balkh, Herat, dan Merv dari Samaniyah. [10] Kehilangan patron dan pelindung, serta terjadinya pergolakan politik dan pergantian kekuasaan yang terjadi terus menerus, memaksa Ibnu Sina untuk mengembara dan selalu berpindah dari kota ke kota. Pergolakan politik dan munculnya Dinasti Ghaznawiyah yang kini menguasai Bukhara memaksa Ibnu Sina pindah dari Bukhara ke Gurganji. [6] Sultan Mahmud mengingingkan Ghazni sebagai pusat kebudayaan dan mengundang berbagai ilmuwan seperti Al-Biruni , Ferdowsi , dan Ibnu Sina untuk datang ke ibukota Ghaznawiyah di Ghazni, tapi Ibnu Sina memilih untuk melarikan diri dari Bukhara ke kota Gurganji di utara, [8] yang saat itu dikuasai Dinasti Ma’muniyah (995–1017) yang berkuasa sesaat di wilayah Khwarezmia setelah berhasil menggulingkan Dinasti Afrighiyah (305–995). [11] Di Gurganji, Ibnu Sina bertemu seorang menteri bernama Abu al-Hussein Suhali [8] yang menerimanya dengan baik dan memperkenalkannya dengan penguasa Ma’muniyah. [6] Meski di Gurganji mendapatkan rumah yang besar dan gaji yang cukup, namun keadaan memaksanya untuk terus mengembara dan berpindah dari kota ke kota. Selama beberapa tahun Ibnu Sina dikabarkan terus berpindah tempat, mulai dari Gorganji , ke Nisa, lalu ke Abiward (ketiganya sekarang di Turkmenistan), kemudian ke Tus , ke Shaqqan (Sarbadar), ke Samangan, lalu ke Jajarm (semuanya sekarang di Iran). [8] Dari sana Ibnu Sina berencana menuju Gorgan untuk mencari suaka kepada Sultan Qabus, [8] dari Dinasti Ziyariyah, yang terkenal sebagai pelindung para ilmuwan; namun ketika Ibnu Sina akhirnya tiba di kota itu, Sultan Qabus telah meninggal sejak tahun 1013. [13] Ibnu Sina kemudian meninggalkan Gorgan menuju Dahae (di Turkmenistan) tapi terpaksa kembali ke Gorgan karena menderita sakit selama perjalanan. Pada saat kembali ke Gorgan itulah dia bertemu dengan Abu ‘Ubayd Juzjani , seorang pelajar, yang berasal dari wilayah Balkh seperti asal ayah Ibnu Sina. [6] Abu ‘Ubayd Juzjani kemudian menjadi murid yang paling setia dan melayani Ibnu Sina hingga akhir hayatnya. [13] [14] Sampai periode ini autobiografi Ibnu Sina berakhir dan kisah selanjutnya diteruskan oleh Juzjani: “Dari titik ini, saya lah yang menuliskan episode-episode kehidupan Guru [Ibnu Sina] yang saya saksikan sendiri selama saya menemaninya hingga kematiannya.” [7] [6] Di Gorgan tampaknya Ibnu Sina diterima dengan baik. Seorang penduduk Gorgan, yang dikatakan pencinta ilmu, membelikan Ibnu Sina sebuah rumah yang cukup nyaman. Menurut Dimitri Gutas, kemungkinan Ibnu Sina mendapat suaka dari Manuchihr (berkuasa 1012–1031), putra Sultan Qabus, yang menjadi penguasa Dinasti Ziyariyah menggantikan ayahnya. [13] Juzjani kerap mengunjungi rumah Ibnu Sina untuk membaca “Risalah Matematika” ( Almagest ) karya Ptolemaeus bersamanya. Di sana pula Ibnu Sina mulai mendiktekan karya-karyanya untuk ditulis ulang oleh Juzjani, di antaranya: Mukhtasar Al-Awshāt (Ringkasan Tengah), Al-Mabda wal-Ma’ād (Masa Awal dan Masa Kembali), Al-Arsyād Al-Kulliyah (Observasi Umum), Mukhtasar Al-Majisti (Ringkasan Almagest), dan berbagai traktat lainnya. [6] Di Gorgan pula Ibnu Sina mulai menulis bagian awal Al-Qānūn fī al-Thibb (Kanon Kedokteran). [6] Persia sekitar kurun 1000 masehi. Selang beberapa waktu, untuk alasan yang tidak disebutkan, sekitar tahun 1014 Ibnu Sina meninggalkan Gorgan menuju Ray di Persia, kota tempat kelahiran Khalifah Harun al-Rasyid . [6] Saat tiba di Ray, kota itu dipimpin seorang emir dari Dinasti Buwaihi yang masih kecil bernama Majd al-Dawla, sehingga pada waktu itu ibunya, Sayyidah Syirin (wafat 1028), yang secara de facto berkuasa. [15] Sebagaimana dikisahkan Juzjani, Majd al-Dawla menderita sakit dan ditempatkan ibunya di harem dan Ibnu Sina ditugaskan untuk merawatnya. [6] Ibnu Sina menetap di Ray selama dua hingga tiga tahun, dan di sana menyelesaikan sebuah buku berjudul Kitāb al-Ma’ad (Buku Masa Kembali). [6] Setelah itu Ibnu Sina pergi dari Ray menuju Qazwin, kemudian menuju Hamadan dan diangkat sebagai wazir (perdana menteri) Syams al-Dawla, yang tidak lain saudara Majd al-Dawla. Meski Juzjani tidak menceritakan alasan kepindahan Ibnu Sina, namun Khvandamir, sejarahwan Persia abad ke-15, menceritakan bahwa Ibnu Sina membuat marah Sayyidah Syirin karena bersikeras bahwa salah satu putranya memiliki hak atas kerajaan. [6] Dalam kesibukannya sebagai wazir kerajaan, Juzjani meminta gurunya untuk terus menulis dan Ibnu Sina berjanji untuk memenuhinya. [7] Maka atas bantuan Juzjani dan murid-muridnya yang lain, setiap malam Ibnu Sina mengadakan pertemuan di rumahnya bersama murid-muridnya, sehinga akhirnya Ibnu Sina berhasil menyelesaikan bukunya Al-Qānūn fī al-Thibb (Kanon Kedokteran) yang telah dimulai sejak di Gorgon, serta mulai menulis Kitāb al-Syifā (Buku Penyembuhan). [6] [16] Dari riwayat yang lain dikatakan bahwa setiap pagi, sebelum berangkat bekerja, Ibnu Sina selalu menyempatkan diri untuk menulis Kitāb al-Syifā , kemudian memanggil murid-muridnya dan membacakan tulisannya. [6] Ketika Syams al-Dawla meninggal tahun 1021, para jendral meminta Sama al-Dawla, yang naik tahta menggantikan ayahnya, untuk tetap menjadikan Ibnu Sina sebagai wazir kerajaan. Tetapi Ibnu Sina menulak permintaan ini, yang alasannya, menurut Soheil M. Afnan, karena sebelumnya para jendral di Hamadan sempat menyerang Ibnu Sina. [6] Alih-alih tetap menjadi wazir, Ibnu Sina memilih untuk pergi dan bersembunyi atas bantuan pelindungnya, Abu Ghalib al-Attar; [13] di mana pada kurun inilah Ibnu Sina berhasil menyelesaikan Kitāb al-Syifā yang dia tulis 50 halaman setiap harinya. [16] Selama dalam persembunyian, Ibnu Sina sempat melakukan korespondensi rahasia dengan ‘Ala al-Dawla, penguasa di Isfahan, dan menawarkan diri untuk menjadi pembantunya. Penguasa di Hamadan, khususnya menteri bernama Tāj-al-Mulk, mencium peristiwa ini dan menuduh Ibnu Sina melakukan pengkhianatan. Maka mereka pun menangkap Ibnu Sina dan memenjarakannya di sebuah kastil di luar Hamadān yang disebut Fardajān. [13] Ibnu Sina dipenjara selama hampir empat bulan hingga pasukan ‘Ala al-Dawla dari Isfahan menyerang Hamadan dan mengakhiri pemerintahan Samāʾ al-Dawla pada 1023. Ibnu Sina pun bebas. Selama dalam tahanan, Ibnu Sina menyelesaikan menyibukkan diri dengan menulis dan menyelesaikan Kitāb al-Hidāya h (Buku Hidayah), Risālah Hayy bin Yaqdzān (Kisah Kehidupan Orang yang Waspada), Kitāb al-Qulanj (Buku tentang Kolik/Sakit Perut), dan Al-Adawiyāt al-Qalbiyah (Pengobatan Jantung). Ketika sudah keluar dari tahanan dan saat masih berada di Hamadan, Ibnu Sina menghabiskan waktu menulis bab logika dari Kitāb al-Syifā . Periode Stabil di Isfahan [ sunting | sunting sumber ] Ibnu Sina sempat ditawari kembali untuk menduduki posisi administratif di Hamadan tetapi dia menolaknya. Selang beberapa waktu, Ibnu Sina memutuskan untuk pindah ke Isfahan bersama para pengikutnya, yakni Juzjani dan saudaranya, serta dua orang budak. [13] Mereka menyamar menggunakan pakaian sufi hingga akhirnya tiba di gerbang Isfahan. Di sana mereka disambut sahabat-sahabatnya, kemudian dibawa ke sebuah rumah yang sudah disapkan sebagai tempat kediamannya. [6] Pindah ke Isfahan dan berada di bawah perlindungan ‘Ala al-Dawla, tampaknya merupakan keputusan yang tepat dan menjadi periode paling stabil dalam kehidupan Ibnu Sina. [16] Dalam kalimat Juzjani, penguasa Kakuyiah itu “memberikan rasa hormat dan penghargaan yang sudah sepantasnya diterima oleh seseorang sekaliber dia [Ibnu Sina].” [13] Tidak heran bila ‘Ala al-Dawla mengeluarkan maklumat: pada setiap Jumat malam sebuah pertemuan digelar bagi Ibnu Sina untuk membahas topik ilmiah dan filosofis, dan dihadiri orang-orang terpelajar dari semua golongan. [6] Selama menetap di Isfahan, Ibnu Sina tidak menduduki posisi resmi di pemerintahan dan cenderung menghindari politik beserta seluruh perangkapnya. Dia mengabdikan seluruh waktunya hanya untuk menulis dan mengajar. Untuk pertama kalinya, Ibnu Sina juga menulis sebuah buku tentang filsafat dalam bahasa Persia yang—sesuai dengan nama pelindungnya—diberi judul Dānish-Nāmeh ye ‘Alā’i (Buku Pengetahuan ‘Ala al-Daula). Di luar itu Ibnu Sina menulis Kitāb al-Najāt (Buku Doa), Kitāb al-Insyāf (Buku Penghakiman Diri), dan melengkapi Kitāb al-Syifā (Buku Penyembuhan) yang telah lama dirintisnya. Mendalami Bahasa Arab [ sunting | sunting sumber ] Meski Ibnu Sina sudah terbiasa menulis dalam bahasa Arab, tapi dia bukanlah ahli dalam bidang sastra dan literatur Arab. Pada suatu hari, dalam pertemuan yang dihadiri ‘Ala al-Dawla, Ibnu Sina mengutarakan jawaban akan sebuah pertanyaan linguistik yang pelik. Seorang terpelajar maju dan berkata, “Anda adalah seorang filsuf dan juga orang bijaksana, tetapi tidak cukup baik memahami filologi sehingga jawaban Anda tidak memuaskan hati kami.” Teguran halus ini sangat mengganggu Ibnu Sina; maka dia pun secara sungguh-sungguh mempelajari tata bahasa dan sastra secara menyeluruh. [6] Sekitar tiga tahun kemudian, Ibnu Sina berhasil menyusun tiga puisi Arab yang penuh dengan kata-kata langka; serta menulis tiga esai dengan berbagai gaya bahasa. Dia lalu membundel karyanya dalam satu jilid, kemudian menyerahkannya kepada ‘Ala al-Dawla agar diteruskan kepada orang terpelajar yang telah menegurnya. Orang terpelajar itu keheranan membacanya, dan tidak berhasil menebak pengarangnya. [6] Pada tahun-tahun berikutnya Ibnu Sina mencoba menyusun sebuah karya tentang linguistik Arab yang diberi judul Lisānul Arab , namun tulisan ini tidak selesai dan masih dalam bentuk naskah kasar hingga kematian menjemputnya. [6] Selain itu Ibnu Sina juga menulis sebuah esai tentang Logika saat mengunjungi Gorgan yang berjudul al-Mukhtasar al-Asghār (Ringkasan Pendek), yang kemudian disertakan pada pembukaan Kitāb al-Najāt . [6] Jatuhnya Isfahan dan Masa Tua [ sunting | sunting sumber ] Mausoleum Ibnu Sina di Hamadan Sayyidah Syirin, yang menjadi penguasa di Ray atas nama putranya, meninggal pada 1028. Peristiwa itu memberi jalan bagi Sultan Mahmud untuk menyerang Dinasti Buwaihi . Sultan Ghaznawiyah itu sudah lama mengincar Persia Tengah, namun terhalang oleh kehadiran penguasa perempuan sehingga menahan diri untuk melakukan serangan. [6] Tetapi Majd al-Dawla terbukti tidak secakap ibunya. Sepeninggal Sayyidah Syirin, pemberontakan melanda Ray dan memaksa Majd al-Dawla meminta bantuan penguasa Ghaznawiyah. Menggunakan undangan Majd al-Dawla sebagai dalih, Sultan Mahmud mengirimkan pasukan ke Ray dan menaklukan Majd al-Dawla pada 1029. [17] Jatuhnya Ray membuat Isfahan berada dalam ancaman. Meski ‘Ala al-Dawla telah berusaha menawarkan jalan damai, namun Sultan Mahmud bersikukuh menaklukan seluruh Dinasti Buwaihi dan membebaskan Kekhalifahan Abbasiyah dari cengkramannya. [17] Ketika Mas’ud, putra Sultan Mahmud, memasuki Isfahan pada tahun 1029, ‘Ala al-Dawla melarikan diri ke Ahvaz, [17] dan dapat dipastikan Ibnu Sina turut melarikan diri bersamanya. [6] Saat peristiwa itu terjadi, dikabarkan rumah Ibnu Sina dijarah dan seluruh koleksi perpustakaannya diangkut ke Ghazni. [6] Tidak lama ‘Ala al-Dawla kembali ke Isfahan dan bersedia menjadi kerajaan bawahan Ghaznawiyah dengan upeti sebesar 200.000 dinar. Dan ketika Sultan Mahmud meninggal tahun 1930, ‘Ala al-Dawla melepaskan diri dari Ghaznawiyah dan bahkan berhasil merebut Ray. [6] Dengan jarak yang jauh dari Ghazni, ibukota Ghaznawiyah, untuk sementara Isfahan bebas dari gangguan. [17] Menurut Soheil M. Afnan, urutan peristiwa politik selama periode ini saling bertentangan dan tanggalnya tidak bisa dipastikan. [6] Satu hal yang pasti, pada tahun 1035, Sultan Mas’ud yang menjadi penguasa Ghaznawiyah kembali menyerang Isfahan. Dan perang ini terus berlangsung hingga kematian ‘Ala al-Dawla pada tahun 1041. [17] Ibnu Sina dikabarkan terus menemani ‘Ala al-Dawla dalam setiap kesempatan, bahkan dalam perang sekalipun. Pada tahun-tahun terakhir inilah Ibnu Sina dikabarkan mulai jatuh sakit dan menderita kolik hebat. [6] Meski Ibnu Sina sudah berusaha mengobati dirinya sendiri, namun penyakitnya tidak sepenuhnya lenyap. Kemudian, saat menemani ‘Ala al-Dawla dalam ekspedisi, penyakit Ibnu Sina kembali kambuh. Pada saat itu Ibnu Sina menyadari bahwa kekuatan tubuhnya menyusut dengan cepat dan seolah menyadari kematiannya sudah dekat, dia meminta untuk menghentikan semua pengobatannya dan berkata, “Tidak ada gunanya lagi mencoba menyembuhkan penyakit saya.” [6] Setelah bertahan beberapa hari, tidak lama setelah mereka memasuki Hamadan, Ibnu Sina meninggal dan dimakamkan di sana pada sekitar bulan Juni/Juli 1037 (Ramadhan 428 hijriah) dalam usia 58 tahun. Pemikiran Ibnu Sina [ sunting | sunting sumber ] Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan . Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar . Sketsa Ibnu Sina dari manuskrip 1271 berjudul ‘Subtleties of Truth’ Ibnu Sina memberi sumbangan besar atas perkembangan awal filsafat Islam, terutama dalam tema logika, etika, dan metafisika. Sebagian besar karyanya ditulis dalam bahasa Arab—yang merupakan lingua franca di Timur Tengah—dan beberapa ditulis dalam bahasa Persia. Skema emanasi Neoplatonis yang diangkat Ibnu Sina menjadi landasan fundamental dalam Ilmu Kalam. [18] Selain itu, menyebut nama Ibnu Sina tidak bisa lepas dari karya terbesarnya Kitab Al-Syifa dalam bidang kedokteran. Lima puluh tahun setelah ditulis, Kitab Al-Syifa sudah beredar di Eropa dalam terjemahan parsial dalam bahasa Latin dengan judul Sufficientia , dan beberapa peneliti mengidentifikasi bahwa pengaruh Ibnu Sina tumbuh sejalan dengan pengaruh Ibnu Rusyd, tetapi surut akibat oleh Dekit Paris 1210 dan 1215 yang menganggap beberapa ajaran atau buku sebagai heretik. [19] Metafisik [ sunting | sunting sumber ] Filsafat dan Islam metafisika Islam awal, dijiwai karena dengan teologi Islam, membedakan lebih jelas daripada Aristotelianisme antara esensi dan eksistensi. Sedangkan keberadaan adalah domain dari kontingen dan disengaja, esensi bertahan dalam makhluk luar disengaja. Filsafat Ibnu Sina, terutama bagian yang berkaitan dengan metafisika, berutang banyak al-Farabi. Pencarian untuk filsafat Islam definitif terpisah dari okasionalisme dapat dilihat pada apa yang tersisa dari karyanya. Setelah memimpin al-Farabi, Ibnu Sina memulai penyelidikan penuh ke dalam pertanyaan dari makhluk, di mana ia membedakan antara esensi (Mahiat) dan keberadaan (Wujud). Dia berargumen bahwa fakta keberadaan tidak dapat disimpulkan dari atau dicatat dengan esensi dari hal-hal yang ada, dan bentuk yang dan materi sendiri tidak dapat berinteraksi dan berasal gerakan alam semesta atau aktualisasi progresif hal yang ada. Keberadaan harus, karena itu, disebabkan agen-penyebab yang mengharuskan, mengajarkan, memberikan, atau menambah eksistensi ke esensi. Untuk melakukannya, penyebabnya harus menjadi hal yang ada dan hidup berdampingan dengan efeknya. Pertimbangan Ibnu Sina dari pertanyaan esensi-atribut dapat dijelaskan dalam hal analisis ontologis tentang modalitas menjadi; yaitu kemustahilan, kontingensi, dan kebutuhan. Ibnu Sina berpendapat bahwa makhluk tidak mungkin adalah bahwa yang tidak bisa eksis, sementara kontingen sendiri (mumkin bi-dhatihi) memiliki potensi untuk menjadi atau tidak menjadi tanpa yang melibatkan kontradiksi. Ketika diaktualisasikan, kontingen menjadi ‘ada diperlukan karena apa yang selain itu sendiri’ (wajib al-wujud bi-ghayrihi). Jadi, kontingensi dalam dirinya adalah potensi beingness yang akhirnya bisa diaktualisasikan oleh penyebab eksternal selain itu sendiri. Struktur metafisik kebutuhan dan kontinjensi berbeda. makhluk diperlukan karena itu sendiri (wajib al-wujud bi-dhatihi) benar dalam dirinya sendiri, sedangkan makhluk kontingen adalah ‘palsu dalam dirinya sendiri’ dan ‘benar karena sesuatu yang lain selain itu sendiri’. Yang diperlukan adalah sumber keberadaan sendiri tanpa adanya dipinjam. Ini adalah apa yang selalu ada. The Necessary ada ‘karena-to-Its-Self’, dan tidak memiliki hakikat / esensi (mahiyya) selain keberadaan (wujud). Selanjutnya, Ini adalah ‘One’ (wahid ahad) [37] karena tidak bisa ada lebih dari satu ‘Diperlukan-yang Ada-karena-to-Hakikat’ tanpa differentia (fasl) untuk membedakan mereka dari satu sama lain. Namun, untuk meminta differentia mensyaratkan bahwa mereka ada ‘karena-to-diri’ serta ‘karena apa yang selain diri mereka sendiri’; dan ini bertentangan. Namun, jika tidak ada differentia membedakan mereka dari satu sama lain, maka tidak ada rasa di mana ini ‘Existent’ tidak satu dan sama. [38] Ibnu Sina menambahkan bahwa ‘Diperlukan-yang Ada-karena-to-Hakikat’ tidak memiliki genus (jins), atau definisi (hadd), maupun rekan (nTambahkan) atau berlawanan (melakukan), dan terlepas (bari) dari materi (madda), kualitas (kayf), kuantitas (kam), tempat (ain ), situasi (segumpal), dan waktu (waqt). Teologi [ sunting | sunting sumber ] Ibnu Sina adalah seorang Muslim yang taat dan berusaha untuk mendamaikan filsafat rasional dengan teologi Islam. Tujuannya adalah untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan ciptaan-Nya dari dunia ilmiah dan melalui akal dan logika. [43] Pandangan Ibnu sina tentang teologi Islam (dan filsafat) yang sangat berpengaruh, membentuk bagian dari inti kurikulum di sekolah-sekolah agama Islam sampai abad ke-19. [44] Ibnu Sina menulis sejumlah risalah singkat berurusan dengan teologi Islam. Ini risalah disertakan pada nabi (yang ia dipandang sebagai “filsuf terinspirasi”), dan juga pada berbagai penafsiran ilmiah dan filosofis dari Quran, seperti bagaimana Quran kosmologi sesuai dengan sistem filsafat sendiri. Secara umum risalah ini terkait tulisan-tulisan filosofis ide-ide agama Islam; misalnya, akhirat tubuh. Ada petunjuk singkat sesekali dan sindiran dalam bukunya lagi bekerja namun yang Ibnu Sina dianggap filsafat sebagai satu-satunya cara yang masuk akal untuk membedakan nubuatan nyata dari ilusi. Dia tidak menyatakan ini lebih jelas karena implikasi politik dari teori semacam itu, jika nubuat bisa dipertanyakan, dan juga karena sebagian besar waktu ia menulis karya pendek yang berkonsentrasi pada menjelaskan teori-teorinya tentang filsafat dan teologi jelas, tanpa menyimpang ke mempertimbangkan hal-hal epistemologis yang hanya bisa dipertimbangkan oleh filsuf lain. [45] Kemudian interpretasi dari Ibnu Sina filsafat dibagi menjadi tiga sekolah yang berbeda; mereka (seperti al-Tusi) yang terus menerapkan filosofinya sebagai sistem untuk menafsirkan peristiwa politik kemudian dan kemajuan ilmiah; mereka (seperti al-Razi) yang dianggap karya teologis Ibnu Sina dalam isolasi dari keprihatinan filosofis yang lebih luas; dan mereka (seperti al-Ghazali) yang selektif digunakan bagian dari filsafat untuk mendukung upaya mereka sendiri untuk mendapatkan wawasan spiritual yang lebih besar melalui berbagai cara mistis. Itu interpretasi teologis diperjuangkan oleh orang-orang seperti al-Razi yang akhirnya datang untuk mendominasi di madrasah. [46] Ibnu Sina menghafal Al Qur’an pada usia sepuluh, dan sebagai orang dewasa, ia menulis lima risalah mengomentari surah dari Al-Qur’an. Salah satu teks-teks ini termasuk Bukti Nubuat, di mana dia komentar pada beberapa ayat-ayat Alquran dan memegang Quran di harga tinggi. Ibnu Sina berpendapat bahwa nabi Islam harus dianggap lebih tinggi dari filsuf. [47] Eksperimen pikiran [ sunting | sunting sumber ] Sementara ia dipenjarakan di kastil Fardajan dekat Hamadan, Ibnu Sina menulis yang terkenal “Mengambang Man” nya – benar jatuh man – percobaan berpikir untuk menunjukkan manusia kesadaran diri dan kekukuhan dan tidak material jiwa. Ibnu Sina percaya nya “Mengambang Man” eksperimen pikiran menunjukkan bahwa jiwa adalah substansi, dan mengklaim manusia tidak dapat meragukan kesadaran mereka sendiri, bahkan dalam situasi yang mencegah semua input data sensorik. Pikiran percobaan kepada pembacanya untuk membayangkan diri mereka diciptakan sekaligus sementara ditangguhkan di udara, terisolasi dari semua sensasi, yang mencakup tidak ada kontak sensorik bahkan dengan tubuh mereka sendiri. Dia berargumen bahwa, dalam skenario ini, kita masih akan memiliki kesadaran diri. Karena dapat dibayangkan bahwa seseorang, ditangguhkan sementara udara terputus dari pengalaman rasa, masih akan mampu menentukan eksistensi sendiri, poin pemikiran percobaan untuk kesimpulan bahwa jiwa adalah kesempurnaan, independen dari tubuh dan immaterial zat. The conceivability ini “Mengambang Man” menunjukkan bahwa jiwa dianggap intelektual, yang mencakup keterpisahan jiwa dari tubuh. Avicenna disebut kecerdasan manusia hidup, terutama intelek aktif, yang ia percaya untuk menjadi hypostasis yang melaluinya Tuhan berkomunikasi kebenaran kepada pikiran manusia dan menanamkan ketertiban dan kejelasan dengan alam. Bibliografi [ sunting | sunting sumber ] Menurut berbagai peneliti, Ibnu Sina menulis sekitar 450 judul, namun hanya 240 yang selamat dan bertahan hingga hari ini. Di antara karya-karyanya yang masih ada, 240 judul merupakan tulisan di bidang filsafat dan 40 judul dalam bidang pengobatan. [3] Berikut beberapa karya Ibnu Sina dalam bentuk kitab atau buku: Al-Qānūn fī al-Thibb (Kanon Kedokteran); Kitāb al-Syifā (Buku Penyembuhan); Mukhtasar Al-Awshāt (Ringkasan Tengah); Al-Mabda wal-Ma’ād (Masa Awal dan Masa Kembali); Kitāb al-Ma’ad (Buku Masa Kembali); Al-Arsyād Al-Kulliyah (Observasi Umum); Mukhtasar Al-Majisti (Ringkasan Almagest, Ptolomaeus); Mantiq Al Masyriqin (Logika Timur); Kitāb al-Hidāya h (Buku Hidayah); Kitāb al-Qulanj (Buku tentang Kolik/Sakit Perut); Al-Adawiyāt al-Qalbiyah (Pengobatan Jantung); Kitāb al-Najāt (Buku Doa); Kitāb al-Insyāf (Buku Penghakiman Diri); Berikut adalah sejumlah esai, cerita, dan kumpulan puisi yang ditulis Ibnu Sina: Risālah Hayy bin Yaqdzān (Kisah Kehidupan Orang yang Waspada); Risalah Ath-Thair ; Risalah fi Sirr al-Qadar ; Risalah fi Al- ‘Isyq ; Risalah al-Mukhtasar al-Asghār (Ringkasan Pendek); Tahshil As-Sa’adah ; Al-Urjuzah fi Ath-Thibb; Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah ; Al-Qasidah Al- ‘Ainiyyah . Lihat pula [ sunting | sunting sumber ] Al-Qānūn fī al-Thibb (Kanon Kedokteran) Kitāb al-Syifā (Buku Penyembuhan) Daftar Filsuf Al-Farabi Referensi [ sunting | sunting sumber ] ^ a b c d e f g Wisnovsky, Robert (2004). Adamson, Peter; Taylor, Richard C., ed. Avicenna and the Avicennian Tradition . Cambridge Companions to Philosophy. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 92–136. doi : 10.1017/ccol0521817439.006 . ISBN 978-0-521-81743-1 . ^ Rizvi, Sajjad H. “Avicenna (Ibn Sina) | Internet Encyclopedia of Philosophy” (dalam bahasa Inggris) . Diakses tanggal 2023-06-09 . ^ a b O’Connor, J. J.; Robertson, E. F. (November 1999). “Abu Ali al-Husain ibn Abdallah ibn Sina (Avicenna)” . Maths History (dalam bahasa Inggris) . Diakses tanggal 2023-06-09 . ^ Lilly Library (Indiana University, Bloomington) (2004-08-31). “Medicine : an exhibition of books relating to medicine and surgery from the collection formed by J.K. Lilly. An Exhibition: a machine-readable transcription” . Lilly Library (Indiana University, Bloomington) . Diakses tanggal 2023-06-09 . ^ Adamson, Peter; Adamson, Peter (2018). Philosophy in the Islamic world . A history of philosophy without any gaps (edisi ke-Paperback edition). New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-957749-1 . Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link ) ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac Afnan, Soheil M. (2015-10-14). Avicenna: His Life and Works (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-37859-4 . ^ a b c d e f g h i j k l m Ushaybi’ah, Ibnu Abi (1981). ‘Uyūn al-Anbā’ fī Thabaqāt al-Athibbā’ (dalam bahasa Arab). Dar al-Taqafa. Archived from the original on 2023-06-01 . Diakses tanggal 2023-06-09 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) Pemeliharaan CS1: Url tak layak ( link ) ^ a b c d e f g h i j k l m n Ibnu Sina: Sebuah Autobiografi. Dicuplik dari ’Uyūn al-Anbā’ fī Thabaqāt al-Athibbā’ karya Ibnu Abi Ashaybi’ah. Penerjemah: Zaenal Muttaqin (2021). Medium . Diakses tanggal 2023-06-09. ^ Fisher, William Bayne; Frye, Richard Nelson; Frye, R. N. (1975-06-26). The Cambridge History of Iran (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 177. ISBN 978-0-521-20093-6 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) ^ a b c d Osimī, Muḩammad, ed. (1998). History of civilizations of Central Asia: A.D. 750 to the end of the fifteenth century. Part 1: Vol. 4, The age of achievement The historical, social and economic setting / ed.: M. S. Asimov . Paris: UNESCO Publ. ISBN 978-92-3-103467-1 . ^ a b Boyle, John Andrew; Bailey, Harold Walter; Gray, Basil (1968). The Cambridge history of Iran . The Cambridge history of Iran. Cambridge: Cambridge university press. ISBN 978-0-521-06936-6 . ^ Majumdar, Ramesh Chandra (1966). The History and Culture of the Indian People (dalam bahasa Inggris). Bharatiya Vidya Bhavan. ^ a b c d e f g Gutas, Dimitri (1989). “AVICENNA ii. Biography,” Encyclopædia Iranica, III . London: Routledge & Kegan Paul. hlm. 67–70. ISBN 978-0-7100-9121-5 . Ringkasan – Encyclopædia Iranica (17 Agustus 2011). Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) ^ Gutas, Dimitri (2014). Avicenna and the Aristotelian tradition: introduction to reading Avicenna’s philosophical works, including an inventory of Avicenna’s authentic works . Islamic philosophy, theology and science (edisi ke-2nd revised and enlarged ed). Leiden: Brill. ISBN 978-90-04-20172-9 . Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link ) ^ Sajjadi, Sadeq; Asatryan, Translated by Mushegh; Melvin-Koushki, Translated by Matthew (2021-06-17). “Būyids” . Encyclopaedia Islamica (dalam bahasa Inggris). Brill. doi : 10.1163/1875-9831_isla_com_05000055 . ^ a b c Adamson, Peter (2013). Interpreting Avicenna: critical essays . Cambridge New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-19073-2 . ^ a b c d e Bosworth, C. E. (1968). Boyle, J. A., ed. The Political and Dynastic History of the Iranian World (A.D. 1000–1217) . The Cambridge History of Iran. 5 . Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 1–202. doi : 10.1017/chol9780521069366.002 . ISBN 978-0-521-06936-6 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) ^ Fancy, Nahyan A. G. (2006-11-06). “Pulmonary Transit and Bodily Resurrection: The Interaction of Medicine, Philosophy and Religion in the Works of Ibn al-Nafīs (d. 1288)” . University Of Notre Dame. ^ Corbin, Henry (2014-06-23). History Of Islamic Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-19889-3 . 20. Robert Wisnovsky, Avicenna’s Metaphysics in Contexts , 2003 l b s Kedokteran Islam abad pertengahan Dokter Abad ke-7 Al-Harits bin Kaldah dan anaknya • Abu Hafsa Yazid • Bukhtishu • Masarjawaih • Nafi bin al-Harits • Ibnu Abi Ramtha al-Tamimi • Rufaida Al-Aslamia Abad ke-8 Keluarga Bukhtishu Abad ke-9 Albubather • Keluarga Bukhtishu • Jabril bin Bukhtishu • Jābir bin Hayyān • Hunayn bin Ishaq dan anaknya • Yahya bin Sarafyun • Al-Kindi • Masawaiyh • Syapur bin Sahal • Ali bin Sahl Rabban al-Tabari • Al-Ruhawi • Yuhanna bin Bukhtishu Abad ke-10 Qusta bin Luqa • Abu ul-Ala Shirazi • Abul Hasan al-Tabari • Al-Natili • Qumri • Abu Zayd al-Balkhi • Isaac Israeli ben Solomon • Ali bin Abbas al-Majusi • Abu Sahl ‘Isa bin Yahya al-Masihi • Muvaffak • Muhammad bin Zakariya al-Razi • Ibnu Juljul • Al-Zahrawi • Ibnu al-Jazzar • Al-Kaŝkarī • Ibn Abi al-Ashʿath • Ibnu al-Batriq • Ibrahim bin Baks Abad ke-11 Abu Ubaid Juzjani • Alhazen • Ali bin Ridwan • Avicenna • Ephraim bin al-Za’faran • Ibnu al-Wafid • Abdollah bin Bukhtishu • Ibnu Butlan • Ibnu al-Kattani • Ibnu Jazla • Masawaih al-Mardini • Yusuf al-Ilaqi • Ibnu Al-Thahabi • Ibnu Abi Sadiq • ʿAlī bin ʿĪsā al-Kahhal Abad ke-12 Abu al-Bayan bin al-Mudawwar • Ahmad bin Farrokh • Ismail Gorgani • Ibnu Hubal • Ibnu Rusyd • Zayn al-Din Gorgani • Maimonides • Serapion the Younger • Ibnu Zuhri • Ya’qub bin Ishaq al-Israili • Abu Jafar bin Harun dari Trujillo • Ibnu Tufail • Al-Ghafiqi • Ibnu Abi al-Hakam • Abu’l-Barakāt al-Baghdādī • Samauʼal Al-Maghribī • Ibnu al-Tilmīdh Abad ke-13 Sa’ad al-Dawla • Al-Shahrazuri • Rashidun al-Suri • Amin al-Din Rashid al-Din Vatvat • Anak Avraham dari Rambam • Da’ud Abu al-Fadl • Al-Dakhwar • Ibnu Abi Usaibia • Joseph ben Judah dari Ceuta • Abd al-Latif al-Baghdadi (penulis abad pertengahan) • Ibnu al-Nafis • Zakariya al-Qazwini • Najib ad-Din-e-Samarqandi • Qotb al-Din Shirazi • Ibnu al-Quff Abad ke-14 Muhammad bin Mahmud Amuli • Al-Nagawri • Aqsara’i • Zayn-e-Attar • Mansur bin Ilyas • Jaghmini • Mas‘ud bin Muhammad Sijzi • Najm al-Din Mahmud bin Ilyas al-Shirazi • Nakhshabi • Sadid al-Din al-Kazaruni • Yusuf bin Ismail al-Kutubi • Ibnu al-Khatib • Rashid-al-Din Hamadani Abad ke-15 Abu Sa’id al-Afif • Muhammad Ali Astarabadi • Husayni Isfahani • Burhan-ud-din Kermani • Şerafeddin Sabuncuoğlu • Muhammad bin Yusuf al-Harawi • Nurbakhshi • Shaykh Muhammad bin Thaleb Abad ke-16 Hakim-e-Gilani • Abul Qasim bin Mohammed al-Ghassani • Taqi al-Din Muhammad bin Ma’ruf Konsep Psikologi • Oftalmologi Karya Al-Risalah al-Dhahabiah Qanun Kedokteran Bagan Anatomi Bangsa Arab Kitab Penyembuhan Kitab Sepuluh Risalah mengenai Mata De Gradibus At-Tashrif Zakhireye Khwarazmshahi Adab al-Tabib Kamel al-Sanaat al-Tibbyya Al-Hawi Penjelasan mengenai Anatomi dalam Qanun Ibnu Sina Pusat Bimaristan • Nur al-Din Bimaristan • Al-‘Adudi Pengaruh Kedokteran Yunani Kuno Memengaruhi Renaisans Medis Akademi Kedokteran dan Ilmu Pengetahuan Abad Pertengahan Ibnu Sina l b s Tokoh dari Khorasan Ilmuwan Abu Hatam Isfizari Abu Maʿshar Abu Wafa Abu Ubayd Juzjani Abu Zayd Balkhi Alfraganus Ali Qushji Avicenna Birjandi Biruni Hasib Marwazi Ibn Hayyan Abu Ja’far al-Khazin Khazini Khojandi Khwarizmi Nasawi Nasir al-Din al-Tusi Omar Khayyam Sharaf al-Dīn al-Ṭūsī Sijzi Filsuf Algazel Amiri Avicenna Farabi Haji Bektash Veli Nasir Khusraw Sijistani Shahrastani Sarjana Muslim Abu Dawood Abu Hanifa Ansari Baghavi Bayhaqi Bukhari Ghazali Hakim Nishapuri Ibn Tayfour Sajawandi Juwayni Marghinani Maturidi Ibn Mubarak Mulla al-Qari Muqatil Muslim Nasafi Nasa’i Qushayri Razi Siraj ud-Din Sajawandi Sarakhsi Shaykh Tusi Taftazani Tha’labi Nishapuri Tirmidhi Zamakhshari Pekerja seni Abū-Sa’īd Abul-Khayr Anvari Aruzi Samarqandi Asadi Tusi Attar Nishapuri Behzad Daqiqi Farrukhi Sistani Ferdowsi Jami Nasir Khusraw Rabia Balkhi Rudaki Rumi Sanā’ī Sejarawan dan ahli politik Abu’l-Fadl Bayhaqi Abu’l-Hasan Isfaraini Abu’l-Ma’ali Nasrallah Abu Muslim Khorasani Abu Sa’id Gardezi Ali-Shir Nava’i Ata-Malik Juvayni Aufi Muhammad Bal’ami Gawhar Shad Ibn Khordadbeh Minhaj al-Siraj Juzjani Khalid ibn Barmak Nizam al-Mulk Tahir ibn Husayn Yahya Barmaki Ahmad ibn Nizam al-Mulk Shihab al-Nasawi l b s Logika Wilayah akademis Filsafat Filsafat logika Filsafat matematika Logika filosofis Logika informal Logika matematika Logika pada ilmu komputer Matematika Metalogika Metamatematika Pemikiran kritis Semantik formal Sejarah logika Teori argumentasi Teori himpunan Teori komputabilitas Teori model Teori pembuktian Fondasi Abduksi Akal Antinomi A priori Bentuk logis Deduksi Definisi Deskripsi Dunia kemungkinan Implikasi ketat Induksi Inferensi Kebenaran Kebenaran analitis Kebenaran logis Keniscayaan Konsekuensi logis Makna Nama Nilai kebenaran Paradoks Pernyataan Penalaran Prasuposisis Probabilitas Referensi Semantik Sintaksis Substitusi Validitas Logikawan Anderson Aristoteles Bain Barwise Bernays Boole Boolos Cantor Carnap Church Chrysippus Curry De Morgan Frege Geach Gentzen Gödel Hilbert Ibnu Rusyd Ibnu Sina Kleene Kripke Leibniz Löwenheim Peano Peirce Putnam Quine Russell Schröder Scotus Skolem Smullyan Tarski Turing Whitehead William of Ockham Wittgenstein Zermelo Daftar Topik Indeks artikel logika Logika matematis Aljabar Boolean Teori himpunan Lainnya Logikawan Aturan inferensi Paradoks Kekeliruan Simbol logika Portal Kategori Ikhtisar Diperoleh dari ” https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ibnu_Sina&oldid=25170649 ” Kategori : Filsuf Islam Cendekiawan Muslim Biografi Kategori tersembunyi: CS1 sumber berbahasa Inggris (en) Pemeliharaan CS1: Teks tambahan Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung Pemeliharaan CS1: Url tak layak CS1 sumber berbahasa Arab (ar) Artikel mengandung aksara Arab Artikel mengandung aksara Uzbek Articles with hCards Semua artikel yang butuh referensi tepercaya Artikel yang tidak memiliki referensi Januari 2024 Halaman ini terakhir diubah pada 15 Januari 2024, pukul 02.27. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons ; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian lebih lanjut. Kebijakan privasi Tentang Wikipedia Penyangkalan Kode Etik Pengembang Statistik Pernyataan kuki Tampilan seluler Gulingkan lebar konten terbatas
Tahafut al-Falasifah – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Lompat ke isi Menu utama Menu utama pindah ke bilah sisi sembunyikan Navigasi Halaman Utama Daftar isi Perubahan terbaru Artikel pilihan Peristiwa terkini Halaman baru Halaman sembarang Komunitas Warung Kopi Portal komunitas Bantuan Wikipedia Tentang Wikipedia Pancapilar Kebijakan Menyumbang Hubungi kami Bak pasir Bagikan Pencarian Cari Buat akun baru Masuk log Perkakas pribadi Buat akun baru Masuk log Halaman penyunting yang telah keluar log pelajari lebih lanjut Kontribusi Pembicaraan Daftar isi pindah ke bilah sisi sembunyikan Awal 1 Latar Belakang 2 Referensi 3 Pranala luar Gulingkan daftar isi Tahafut al-Falasifah 15 bahasa العربية Català Deutsch English Esperanto Español فارسی Français Kurdî Bahasa Melayu پنجابی پښتو Português Türkçe اردو Sunting pranala Halaman Pembicaraan Bahasa Indonesia Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Perkakas Perkakas pindah ke bilah sisi sembunyikan Tindakan Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Umum Pranala balik Perubahan terkait Halaman istimewa Pranala permanen Informasi halaman Kutip halaman ini Lihat URL pendek Unduh kode QR Butir di Wikidata Cetak/ekspor Buat buku Unduh versi PDF Versi cetak Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Bagian dari seri artikel mengenai Ibnu Sīnā Karya Kitab Penyembuhan Qanun Kedokteran Pemikiran Ibnusinaisme Dalil adanya Tuhan Manusia melayang Kritik Al-Ghazali terhadap Ibnu Sina Murid Abu ‘Ubayd al-Juzjani Bahmanyār Ibnu Abi Sadiq Ali bin Yusuf al-Ilaqi Monumen Mausoleum Ibnu Sina Ibnu Sina (kawah) Universitas Bu-Ali Sina Rumah Sakit Ibnu Sina (Iran) The Physician The Physician (film 2013) Yayasan Kebudayaan dan Keilmuan Ibnu Sina Paviliun Para Ilmuwan l b s Tahafut al-Falasifah (تهافت الفلاسفة, “Kerancuan para Filsuf”) adalah karya Al-Ghazali yang menjadi kontroversi selama berabad-abad. Di dalam karya ini Al-Ghazali mengkritik para filsuf, terutama Ibnu Sina dan Al-Farabi , khususnya dalam masalah teologi atau kalam. Buku ini dianggap memiliki andil atas mencuatnya madzhab teologi Asy’ariyah dan mundurnya minat terhadap falsafah yang berakar pada filsafat Yunani. Dalam buku ini, Al-Ghazali menulis 20 daftar kerancuan logika para filsuf terkait teologi Islam. Dari daftarnya itu, 17 diantaranya dinyatakan sebagai sesat atau bid’ah, dan 3 lainnya dianggap sebagai tanda kekafiran . Tiga butir kerancuan yang Al-Ghazali anggap sebagai tanda kekafiran adalah: Pertama, pendapat bahwa alam semesta senantiasa ada dan tanpa permulaan; kedua , pendapat bahwa Tuhan hanya mengetahui perkara-perkara mujmal (umum) dan bukan hal-hal parsial atau khusus; dan ketiga , pendapat bahwa hanya ruh (dan bukan jasad) yang akan dibangkitkan di hari akhir . [1] [2] Latar Belakang [ sunting | sunting sumber ] Pada tahun 1091 Sultan Nizham al-Mulk mengangkat Al-Ghazali sebagai Guru Besar Hukum di Madrasah Nizhamiyah Baghdad. Madrasah ini merupakan salah satu perguruan tinggi paling bergengsi di zamannya, yang salah satu tujuan pendiriannya adalah untuk menghadapi propaganda ajaran Ismailiyah dari Dinasti Fatimiyah. [3] Tahafut al-Falasifah merupakan satu dari empat seri teologis yang Al-Ghazali hasilkan selama masa jabatannya sebagai Guru Besar Hukum di Nizamiyah . Karya pertama adalah ringkasan pemikiran filsafat yang berjudul Maqāsid al-Falāsifa (Tujuan para Filsuf). Dalam Maqāsid Al-Ghazali secara jelas mengatakan buku ini merupakan pengantar bagi Tahāfut . Tahāfut al-Falāsifa adalah karya kedua dan utama dari seri teologi ini. Karya ketiga, Miyar al-Ilm fi Fan al-Mantiq (Kriteria Pengetahuan dalam Ilmu Logika), ditujukan sebagai lampiran bagi Tahafut dan berisi rangkuman pengajaran Ilmu Kalam dari Ibnu Sina . Dan karya terakhir adalah Al-Iqtisād fī al-Iʿtiqad , sebuah eksposisi Teologi Asy’ariyah untuk mengisi doktrin teologi-metafisika yang Al-Ghazali kritik dalam Tahāfut . Serial ini jelas menunjukkan bahwa Al-Ghazali tidak menyangkal semua ilmu filsafat seperti yang diyakini banyak sarjana. Al-Ghazali menyatakan bahwa ia tidak menemukan cabang filsafat lain termasuk fisika, logika, astronomi atau matematika bermasalah, satu-satunya perselisihannya adalah dengan metafisika di mana ia mengklaim bahwa para filsuf tidak menggunakan alat yang sama, yaitu logika, yang mereka gunakan untuk ilmu lain. [3] Referensi [ sunting | sunting sumber ] ^ Leaman, Oliver (2002). An Introduction to Classical Islamic Philosophy . Cambridge University Press. hlm. 55. ISBN 978-0-521-79757-3 . ^ Adamson, Peter (2016). Philosophy in the Islamic World: A History of Philosophy Without Any Gaps . Oxford University Press . hlm. 148. ISBN 978-0-19-957749-1 . ^ a b Al-Ghazzālī (2000). The Incoherence of The Philosophers (Tahāfut al-Falāsifah): A Parallel English-Arabic Text . Michael E. Marmura (translator). Utah: Brigham Young University Press. ISBN 0842524665 . Pranala luar [ sunting | sunting sumber ] Terjemahan buku ini dalam Bahasa Indonesia di Google Books Imam al-Ghazali (2015). Tahafut Al Falasifah: Kerancuan Para Filsuf . Diterjemahkan oleh Achmad Maimun. FORUM. Pengawasan otoritas Umum Integrated Authority File (Jerman) VIAF 1 WorldCat (via VIAF) Perpustakaan nasional Prancis (data) Amerika Serikat Israel Polandia Diperoleh dari ” https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tahafut_al-Falasifah&oldid=24108833 ” Kategori : Buku abad ke-11 Buku filsafat Ibnu Sina Kategori tersembunyi: Artikel Wikipedia dengan penanda GND Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF Artikel Wikipedia dengan penanda BNF Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN Artikel Wikipedia dengan penanda NLI Artikel Wikipedia dengan penanda PLWABN Artikel Wikipedia dengan penanda WorldCat-VIAF Halaman ini terakhir diubah pada 31 Agustus 2023, pukul 10.31. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons ; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian lebih lanjut. Kebijakan privasi Tentang Wikipedia Penyangkalan Kode Etik Pengembang Statistik Pernyataan kuki Tampilan seluler Gulingkan lebar konten terbatas
Al Ghazali dan Alyssa Daguise Dirumorkan Balikan, Warganet Cocoklogi Unggahan IG Story – Lifestyle Liputan6.com Sukses liputan6 CARI Home News Pemilu Bisnis Bola TV ShowBiz Tekno Foto Hot Cek Fakta Islami Crypto Citizen6 Saham Regional Otomotif Opini Disabilitas Global On Off Surabaya Lifestyle Health Video Lifestyle Culinary Travel Home & Decor Pesona Indonesia Home Lifestyle Al Ghazali dan Alyssa Daguise Dirumorkan Balikan, Warganet Cocoklogi Unggahan IG Story Di lini masa, warganet ramai membicarakan beberapa bukti tentang Al Ghazali memang berkencan dengan Alyssa Daguise di sebuah restoran. Dyah Ayu Pamela Diperbarui 09 Mei 2024, 15:03 WIB Diterbitkan 09 Mei 2024, 14:07 WIB Copy Link 10 Perbesar Al Ghazali dan Alyssa Daguise dikabarkan pacaran lagi. (Dok: IG https://www.instagram.com/alyssadaguise/?hl=en ) Liputan6.com, Jakarta – Hubungan Al Ghazali dan Alyssa Daguise kembali jadi perbincangan, setelah dikabarkan balikan. Hal itu diketahui berdasarkan cocoklogi para warganet yang menghubungkan unggahan Instagram (IG) Story keduanya baru-baru ini. Bukan hanya itu, warganet justru merasa kasihan dengan Laura Moane yang diketahui merupakan pacar Al Ghazali . Di lini masa, warganet ramai membicarakan beberapa bukti tentang Al Ghazali memang berkencan dengan Alyssa Daguise di sebuah restoran. “Al Ghazali dan Alyssa balikan?” tanya akun TikTok @matchaluvv00, diunggah pada Kamis, (9/5/2024). Advertisement Dalam beberapa slide foto, terlihat bagaimana kesamaan logo baju pada foto Alyssa. Waktu unggahan IG story tersebut juga di sekitaran waktu yang sama, sehingga semakin menguatkan spekulasi keduanya kembali menjalin hubungan. Makanan yang diunggahnya pun tampak sama, yaitu dry age beef . Pada unggahan lain, keduanya juga masih menunjukkan makanan lain yang dipesan meskipun berbeda yaitu pasta ala Italia dan scallop. Warganet pun menyerbu akun media sosial keduanya untuk mengetahui kebenaran kabar tersebut. Tak segan, ada pula warganet yang merasa senang keduanya balikan lagi. “Ya kali lihat mantan makin shinning nggak mau balikan,” tulis warganet. “Seneng banget kalo emang beneran kabarnya,” yang lain setuju. “Kata gue teh mending balikan ,” sambung yang lain. “Semoga langsung nikah,” doa warganet. “Semoga kali ini langsung nikah,” harap warganet. “Semoga balikan, karena emang perfect couple,” seru warganet lainnya. * Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini . 2 dari 4 halaman Alyssa Daguise Disebut Putus dari William Darouiche Perbesar Alyssa Daguise ke Hong Kong (sumber: Instagram/alyssadaguise) Alyssa Daguise baru saja berulang tahun ke 26 pada Senin, 25 Maret 2024. Dalam momen ulang tahunnya tersebut, ia pun membagikan potretnya bersama banyak buket bunga. Alyssa sempat berada di Hong Kong beberapa waktu lalu untuk menghadiri sebuah acara dari sebuah brand fesyen.. Selain menghadiri acara fesyen, Alyssa pun mengunjungi galeri seni, banyak dari potretnya ini dibagikan dalam media sosial Instagramnya. Selain itu ia pun masih mendapat kejutan ulang tahun dari sahabatnya, namun cukup banyak warganet yang penasaran. Pasalnya, beberapa waktu belakangan ini sosok kekasih Alyssa Daguise sudah jarang terlihat. Bahkan dalam media sosial Instagram keduanya nampak tidak menampilkan potretnya masing-masing. Banyak warganet yang menganggap saat ini keduanya sudah putus. Advertisement Padahal keduanya baru go public pada awal Januari 2024. Bahkan dikabarkan ayah Alyssa sudah merestui hubungan putrinya dengan William. Sang mantan pacar kala itu diajak liburan bersama keluarga Alyssa. Advertisement 3 dari 4 halaman Gaya Pacaran Al Ghazali dengan Laura Moane Perbesar Jalan Bareng Al Ghazali di Mal, Gaya Pacaran dan Pakaian Laura Moane Jadi Sorotan. foto; TikTok @sanithesunshine Sementara itu, beberapa waktu lalu Laura Moane berada di Bangkok, Thailand bersama kekasihnya Al Ghazali untuk menyaksikan konser Coldplay yang digelar pada 4 Februari 2024. Saat di Thailand, keduanya terlihat berjalan-jalan di sebuah mal bersama pasangan Rizky Nazar dan Syifa Hadju. Video kebersamaan Al dan Laura di Thailand itu viral dan membuat pandangan warganet langsung tertuju pada penampilan Laura Moane saat itu. Dara berusia 17 tahun itu terlihat mengenakan atasan abu-abu bermodel strapless yang dipadukan dengan celana panjang hitam serta sneakers putih. Saat itu penampilan dan gaya pakaian Laura dinilai terlalu seksi dan dewasa karena outfit yang dikenakannya. Gaya pacarannya dengan Al Ghazali juga jadi perhatian, karena tak ragu bermesraan di depan umum. Advertisement Sebab saat mereka menaiki eskalator, Al pun tak ragu mengalungkan tangannya ke tubuh sang kekasih yang mengenakan baju strapless dan mencium kepalanya. Sikap keduanya jauh berbeda dengan Rizky Nazar dan Syifa Hadju yang hanya berjalan beriringan di belakang mereka tanpa bergandengan tangan. 4 dari 4 halaman Bajunya Dianggap Terlalu Terbuka Perbesar Jalan Bareng Al Ghazali di Mal, Gaya Pacaran dan Pakaian Laura Moane Jadi Sorotan. foto; TikTok @sanithesunshine Video ini ramai mendapatkan tanggapan usai diunggah oleh akun TikTok @sanithesunshine pada 3 Februari 2024. Sampai berita ini ditulis, unggahan tersebut sudah dilihat lebih dari 3,5 juta kali dan disukai lebih dari 115 ribu kali. “Jadi pengin peluk anak2ku sendiri. Terimakasih sdh jadi anak2 y salih saliha y menentramkan hati ayah d mama ya nak,” komentar seorang warganet menyindir gaya pacaran Al dan Laura. “Apa gak dingin yah bajunya. Kayak bukan umur 17 th,” kata warganet yang lain tentang gaya pakaian Laura Moane. Advertisement “Gmna sh cara ijin ke ortu buat liburan ke LN bareng pacar😐,” tanya warganet lainnya. “Kok aku malah salfok sama hasil videomu yg jernih banget padahal dr jauhhh,” ujar warganet lainnya. Usai putus dari Alyssa Daguise, Al kembali jatuh cinta dengan perempuan cantik yang bernama Laura Moane. Gadis yang dikabarkan sedang menjalin hubungan asmara dengan Al Ghazali ini merupakan seorang influencer dan model. Perbesar Infografis Macam-Macam Bahasa Cinta. (Liputan6.com/Triyasni) * Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan. Kehidupan Warga di Dusun Tempel dan Dusun Bentrokan yang Memiliki Kemiringan Tajam Advertisement Advertisement Al Ghazali Artis Al Ghazali adalah anak sulung dari Ahmad Dhani dan Maia Estianty Lihat Selengkapnya Al Ghazali Alyssa Daguise dan Al Ghazali Alyssa Daguise Cocoklogi Laura Moane Al Ghazali dan Alyssa balikan Balikan Kredit Dyah Ayu Pamela Author Henry Editor Bagikan Copy Link 10 Indonesia vs Guinea Live Report Guinea vs Indonesia di Playoff Olimpiade 2024: Misi Garuda Muda Akhiri Penantian 68 Tahun Link Live Streaming Duel Indonesia vs Guinea di Clairefontaine, Sebentar Lagi Mulai Susunan Pemain Indonesia vs Guinea di Playoff Olimpiade 2024: Kejutan di Sisi Kanan Pertahanan Garuda Muda Jelang Indonesia vs Guinea di Play-off Olimpiade Paris 2024, Warganet: Abang-Abang Guinea Main Selow Ya, Pemain Kita Imut-Imut Link Live Streaming Play-off Olimpiade Guinea vs Indonesia, Kamis 9 Mei Pukul 20.00 WIB Jadwal Timnas Indonesia U-23 vs Timnas Guinea U-23, Berikut Prediksi Susunan Pemainnya Kenaikan Yesus Kristus Jelang Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus, Arus Lalu Lintas Tol Jabotabek dan Jabar Meningkat Deretan Ucapan Selamat Memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus, dari Menko Luhut hingga Sri Mulyani, Ini Pesannya Jokowi Ajak Jaga Persatuan dan Keharmonisan saat Peringatan Kenaikan Yesus Kristus Khidmat Misa Kenaikan Yesus Kristus di Gereja Katedral Jakarta Libur Hari Kenaikan Yesus Kristus, Penumpang Kereta Cepat Whoosh Bakal Sentuh 20 Ribu Orang Pesan Menag Yaqut di Hari Kenaikan Yesus Kristus untuk Segenap Umat yang Merayakan Liga Champions Profil Ian Maatsen, Pemain Borussia Dortmund Berdarah Indonesia yang Bakal Tampil di Final Liga Champions Manchester United Ketiban Durian Runtuh dari Final Liga Champions Real Madrid vs Dortmund Dibungkam Real Madrid, Harry Kane dkk Gagal Melaju ke Final Liga Champions 2023/2024 Munchen Didepak Real Madrid dari Liga Champions, Harry Kane Diolok-Olok Sebagai Pembawa Sial Dua Gol Joselu Pastikan Langkah Real Madrid ke Final Liga Champions 2023/2024 Real Madrid ke Final Liga Champions 2024, Joselu Pimpin Comeback Dahsyat atas Bayern Munchen BRI Liga 1 Klasemen Akhir BRI Liga 1 2023/2024: Borneo FC Juara Musim Reguler, Rans Nusantara Degradasi Hasil BRI Liga 1: Dihajar Persija, PSIS Gagal Rebut Tiket Championship Series dari Madura United Klub Milik Raffi Ahmad Rans Nusantara FC Terdegradasi dari BRI Liga 1, Arema FC Selamat Happy Ending Akhiri Kompetisi Kalahkan Persik, Persebaya Siapkan Kerangka Tim untuk Musim Depan Timnas Indonesia Tembus Semifinal Piala Asia U-23 2024, PT LIB Susun 3 Opsi Jadwal Championship Series BRI Liga 1 Paul Munster Ingin Persebaya Akhiri Musim Kompetisi dengan Kebanggaan Menang Lawan Persik TOPIK POPULER # Fashion Beauty # Zodiak # Relationship # Pariwisata Jakarta # Makeup Advertisement Advertisement Populer Lihat Semua 1 Lifestyle Reaksi Rizky Febian Saat Pengajian Dibacakan Pantun, Hari Jumat Akad Nikah Malam Sabtu Bagai di Surga 2 Lifestyle Akui Sering Berantem, Rizky Febian dan Mahalini Sudah Menemukan Cara Mengatasi Konflik 3 Lifestyle 6 Tampilan Terbaik Artis Korea di Baeksang Arts Awards 2024, dari Song Hye Kyo hingga Go Yoon Jung 4 Culinary 3 Resep Praktis Ikan Teri yang Kaya Zat Gizi, Jadi Olahan Balado hingga Pepes 5 Lifestyle Al Ghazali dan Alyssa Daguise Dirumorkan Balikan, Warganet Cocoklogi Unggahan IG Story 6 Lifestyle Ji Chang Wook Tiba-Tiba Ada di Bali, Kunjungi GWK dan Langsung Terbang ke Labuan Bajo 7 Lifestyle Penting Dicatat untuk Para Pejuang Garis Dua, Kapan Harus Konsultasi ke Klinik Fertilitas? 8 Lifestyle Jelang Pernikahan Rizky Febian dan Mahalini, Sule Potret Mesra Bareng Perempuan Berhijab 9 Lifestyle Top 3 Berita Hari Ini: Jadi Anggota DPD dan Dipanggil Pak Dewan, Mobil Komeng Jadi Sorotan Warganet 10 Culinary Pecel dan Ketoprak Kembali Masuk Daftar Salad Terbaik Dunia Versi TasteAtlas Timnas Indonesia U-23 Live Report Guinea vs Indonesia di Playoff Olimpiade 2024: Misi Garuda Muda Akhiri Penantian 68 Tahun Link Live Streaming Duel Indonesia vs Guinea di Clairefontaine, Sebentar Lagi Mulai Susunan Pemain Indonesia vs Guinea di Playoff Olimpiade 2024: Kejutan di Sisi Kanan Pertahanan Garuda Muda Jelang Indonesia vs Guinea di Play-off Olimpiade Paris 2024, Warganet: Abang-Abang Guinea Main Selow Ya, Pemain Kita Imut-Imut Link Live Streaming Play-off Olimpiade Guinea vs Indonesia, Kamis 9 Mei Pukul 20.00 WIB Gara-gara Hal Ini, Nathan Tjoe A-On Dipuji Shin Tae-yong Jelang Play-off Olimpiade Lawan Guinea Berita Terkini Lihat Semua Mitsubishi Tawarkan Pajero Sport dan Xpander Cross Edisi Terbatas, Cuma Ada 800 Unit Bursa Saham China Melesat Usai Rilis Data Neraca Perdagangan China Telah dibaca 0 kali Erina Gudono Unggah Foto Bareng Keluarga Saat Umrah, Warganet Salfok Kahiyang Ayu yang Repot Mengurus Anak Telah dibaca 0 kali Live Report Guinea vs Indonesia di Playoff Olimpiade 2024: Misi Garuda Muda Akhiri Penantian 68 Tahun Telah dibaca 105 kali Komitmen Minimalkan Emisi Karbon, BLDF Tanam 4.297 Trembesi di Jalan Tol Cisumdawu Telah dibaca 0 kali Daop 7 Madiun Sediakan 13.910 Kursi untuk Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih Telah dibaca 0 kali Duo Muller jadi Tersangka, Polisi Izin Geledah Pihak PT Dago Inti Graha dan Inzage PN Bandung soal Sengketa Dago Elos Telah dibaca 0 kali Dekranas Gelar Puncak HUT ke-44 di Solo, Ini Rangkaian Acaranya Telah dibaca 0 kali Panji Gumilang Ajukan Praperadilan soal TPPU, Ini Kata Pakar Hukum Telah dibaca 0 kali Manchester United Segera Dapatkan Rekrutan Murah Meriah di Musim Panas 2024 Telah dibaca 0 kali Putri Tanjung Blak-blakan Bongkar Gaji Bulanan di Perusahaan Ayahnya, Kiky Saputri: Itu Bayaranku Sekali Nge-MC Telah dibaca 0 kali Rektor UMT Amarullah Didaftarkan Relawannya Maju Pilkada Kota Tangerang Lewat PKB Telah dibaca 0 kali Banjir Bandang Luwu, BUMN Turun Tangan Salurkan Bantuan Telah dibaca 0 kali VIDEO: Diskusi: Wacana 40 Menteri di Kabinet Prabowo-Gibran, Efektifkah? Telah dibaca 0 kali PVMBG: Gunung Ibu Alami Dua Kali Erupsi Besar Kamis 9 Mei 2024 dalam Durasi Lama Telah dibaca 0 kali Advertisement
Al Ghazali dan Alyssa Daguise Balikan? Instagram Story Kembar Jadi Sorotan, Netizen Kasihani Nasib Laura Moane Register | Login facebook twitter instagram youtube Celebrity Fashion And Beauty Parapuan W-Stories K-Pop W-Health Health Love Romance Female Inspiration Parenting Zodiak Career Finance Pemilu Leisure Travelling Culinary Living Interior Eksterior Entertainment Music Movies Arts Auto Car Motorcycle Techno Gadget Game Start Up Home CELEBRITY Al Ghazali dan Alyssa Daguise Balikan? Instagram Story Kembar Jadi Sorotan, Netizen Kasihani Nasib Laura Moane Fidiah Nuzul Aini – Kamis, 9 Mei 2024 | 16:31 WIB Al Ghazali dan Alyssa Daguise Balikan? Instagram Story Kembar Jadi Sorotan, Netizen Kasihani Nasib Laura Moane Laporan Wartawan Grid.ID, Fidiah Nuzul Aini Grid.ID – Al Ghazali dan Alyssa Daguise balikan ? Instagram story kembar dari Al Ghazali dan Alyssa Daguise jadi sorotan. Netizen kasihani nasib Laura Moane yang dikabarkan pacaran dengan Al Ghazali. Kisah asmara putra sulung Maia Estianty dan Ahmad Dhani kini jadi perbincangan. Pasalnya, Al Ghazali kini dikabarkan balikan dengan Laura Moane. Padahal sebelumnya Al Ghazali sempat dikabarkan pacaran dengan Laura Moane. Kabar balikan itu berawal dari unggahan Instagram story kembar milik Al Ghazali dan Alyssa Daguise. Penasaran? Hal itu bisa dilihat melalui akun Instagram @lambegosiip, Rabu (8/5/2024). Pada unggahan tersebut, Al Ghazali dan Alyssa Daguise terlihat sama-sama menikmati hidangan steak daging, meskipun dengan pilihan menu yang berbeda. Perbedaannya, piring Al Ghazali terlihat datar sedangkan piring Alyssa Daguise memiliki tekstur. Halaman Selanjutnya 1 2 3 Show all Al ghazali Balikan Alyssa daguise Instagram story Laura Moane PROMOTED CONTENT Source : Instagram Penulis : Fidiah Nuzul Aini Editor : Fidiah Nuzul Aini Hide ARTIKEL TERKAIT Innalillahi, Ternyata Al Ghazali Dapat Warisan Penyakit ini dari Maia Estianty, Auto Bingung saat Kulitnya Berubah Warna Cantiknya Calon Mertua Al Ghazali Bak Barbie Hidup, Penampilannya Kece Abis Seperti ABG, Berstatus Janda Anak 3 Kedekatan Al Ghazali dan Safeea Ahmad Bikin iri, Putra Ahmad Dhani Beri Panggilan Khusus ini untuk Sang Adik Saking Sayangnya Curhatan Maia Estianty Soal Al Ghazali yang Pernah Divonis Derita Penyakit Langka, Ternyata Turunan dari Sosok ini LATEST Zodiak 4 Arti Mimpi Buah Duku Simbol Keberuntungan dan Kesuksesan yang Akan Datang, Berbahagialah! Music Lagu Baru Sasha Alex Sloan, Ini Lirik Lengkap ‘Kids’ yang Easy Listening, Wajib Masuk Playlist! Zodiak 4 Arti Mimpi Suami Selingkuh, Ternyata Bisa Jadi Pertanda Baik, Jangan Dulu Emosi! Celebrity Lyodra Turut Bahagia Jelang Pernikahan Mahalini dengan Rizky Febian Zodiak 4 Arti Mimpi Ke Kota Madinah, Ada Pertanda Baik? Popular Celebrity Ria Ricis Jawab Klarifikasi Teuku Ryan, Komen di Youtube Mantan Suami, Minta Dibela tapi.. Celebrity Innalillahi, Sarwendah Umumkan Kabar Sedih ini di Tengah Isu Perpisahan dengan Ruben Onsu, Ada Apa Gerangan? Celebrity Perankan Suami Poligami, Tanta Ginting Belajar dari Akun Gosip: Kejadian Pelakor Lagi Banyak Celebrity Langgar Perjanjian Usai Cerai Gegara Follow IG Wanita Ini Sampai Bikin Okie Agustina Murka, Gunawan Dwi Cahyo Terancam Tak Bisa Temui Anak Celebrity Ridwan Kamil Ketemu Sejoli Boncengan Mesra di Motor, Suami Atalia Praratya Langsung Setujui Saat Diminta Jadi Saksi Nikah: Nanti DM Aja! Celebrity Perjuangan Istri Dorman Borisman, Temani Suami di Masa Kritis hingga Detik Terakhir W Stories Auto Tajir Melintir, ART di Thailand dapat Warisan Rp 43,5 Miliar dari Majikan yang Tewas Akhiri Hidup Diduga Gegara Depresi Idap Kanker Celebrity Jelang Hari Bahagia, Rizky Febian dan Mahalini Akan Gelar Akad Nikah dan Resepsi Pakai Adat Ini Celebrity Pelaku Pencurian di Klinik dr Richard Lee Ungkap Aksinya Adalah Settingan, Kini Pihak Kepolisian siap Panggil sang Youtuber Celebrity Undangan Bocor! Hari Ini Pengajian, Akad Nikah Rizky Febian dan Mahalini Digelar di Hotel Raffles 10 Mei 2024 Tag Popular #pendaki Andika Pratama Meninggal Dunia #malik Bawazier #haji Isam #andhika Pratama #hard Gumay #video Dewasa #eep Saefulloh Fatah #kartika Putri #ghatan Saleh Hilabi #prabowo Subianto x Networks About Us Editorial Management Privacy Pedoman Media Siber Contact Us Hak Cipta © Grid.ID 2024 X Grid Networks Adjar Bobo Bolanas Bolasport BolaStylo Cerdas Belanja CewekBanget Fotokita Grid Fame Grid Games Grid Health Grid Hot Grid Motor Grid Pop Grid Star Grid.ID Gridoto Hai Hits Hype iDEA Info Komputer Info Smartcity Intisari Intisari Plus Jip.co.id Juara Kids Kitchenesia MakeMac Motorplus Nakita National Geographic Nextren Nova Otofemale Otomania.com Otomotifnet.com Otorace Otoseken Parapuan Sajian Sedap Sosok Sportfeat Stylo Suar SuperBall Video Wiken
alghazaliköhler (@alghazali7) • Instagram photos and videos
8 Potret Terkini Alyssa Daguise yang Makin Memesona, Diduga Balikan dengan Al Ghazali karena Ini – KapanLagi.com< Advertisement HOME ARTIS HOLLYWOOD FILM MUSIK DANGDUT KOREA JEPANG FOTO KUIS PLUS TRENDING VIDEO SambalABC Home FOTO INDONESIA 8 Potret Terkini Alyssa Daguise yang Makin Memesona, Diduga Balikan dengan Al Ghazali karena Ini Menjadi public figure tentu saja menjadi sasaran kekepoan netizen. Tidak hanya tentang karier, tapi kehidupan pribadi mereka kerap curi perhatian. Salah satunya adalah selebritis cantik Alyssa Daguise yang tak lepas dari sorotan netizen karena paris cantiknya yang bikin pangling. Baru-baru ini, Alyssa diduga balikan dengan Al Ghazali. Cari tau kebenarannya berikut ini, yuk! Rabu, 08 Mei 2024 20:30 Berikut ini potret terbaru Alyssa Daguise yang kecantikannya makin nggak ada obat. Alyssa sering mengabadikan berbagai aktivitasnya, salah satunya adalah liburan ke Bali. Hak Cipta: Instagram.com/alyssadaguise PREV 1/8 NEXT Topik Terkait: Aktivitas Seleb Kisah Viral Hari Ini Apa Kabar Seleb Trending BERI KOMENTAR Editor's Pick KUIS [KUIS KOREA] Yuk Cek Status Hubungan Kamu Sama Felix STRAY KIDS yang Sabar Banget Itu! FOTO DANGDUT Bak Tante dan Keponakan, 8 Potret Fitri Carlina Foto Bareng Justin Hubner – Hingga Ivar Jenner FOTO SELEBRITI 8 Potret Juliana Moechtar Hadiri Acara Syukuran HUT Persit ke-78, Cantik Kebangetan FOTO KOREA 8 Potret Kim Hye Yoon, Aktris Cantik Imut Nggemesin yang Kerap Jadi Anak SMA di Drama Korea FOTO SELEBRITI 8 Potret Pengajian Pra Nikah Rizky Febian dan Mahalini yang Digelar Hari Ini FOTO SELEBRITI 7 Potret Perayaan Pesta Ulang Tahun Don Verhaag Anak Jessica Iskandar, Sederhana di Rumah FOTO SELEBRITI Profil Amanda Sukma, Salah Satu Personel JKT48 yang Kena Sanksi Setelah Ketahuan Langgar Golden Rules FOTO KOREA 8 Aktor Ganteng Korea Ini Sukses Jadi Best Dressed di Red Carpet BAEKSANG ARTS AWARDS 2024 FOTO KOREA 8 Artis Korea Tercantik di Red Carpet BAEKSANG ARTS AWARDS 2024, Kim Go Eun – Go Yoon Jung FOTO KOREA 8 Foto Artis Korea di Red Carpet BAEKSANG ARTS AWARDS 2024, Ada Kim Soo Hyun – Suzy Advertisement Advertisement More Pictures 8 Potret Kondisi Terkini Vicky Prasetyo yang Sedang Opname, Tetap Jalankan Salat 5 Waktu Meski Terbaring Lemah – Masih Terus Bekerja 8 Foto Geliat Animator Indonesia Sashya Subono di Balik Film KINGDOM OF THE PLANET OF THE APES 10 Foto Intip First Look 'FLY ME TO THE MOON': Kolaborasi Perdana Scarlett Johansson dan Channing Tatum 8 Foto Potret Bridal Shower Mahalini, Dapat Kejutan dari Sahabat dan Rizky Febian – Kuenya Jadi Sorotan 7 Foto Bak Tante dan Keponakan, 8 Potret Fitri Carlina Foto Bareng Justin Hubner – Hingga Ivar Jenner 8 Foto 8 Potret Chris Hemsworth Ungkap Miliki Risiko Alzheimer – Tepis Rumor Pensiun 8 Foto Cantiknya Baju Mahalini di Acara Pengajian Menjelang Pernikahan dengan Rizky Febian, Mualaf Sebelum Akad 8 Foto Melly Lee Dipuji Bak Miss Mega Bintang di Pemotretan Terbarunya – Usung Konsep Mewah Ala Model! 8 Foto Potret Puteri Modiyanti Umrah, Cantik Berhijab – Berangkat Tanpa Sandy Harun yang Kini Beda Agama 7 Foto Baby Bump Mulai Terlihat, 8 Potret Nadya Mustika Traveling Bersama Keluarga Kecilnya – Kesal Sang Suami Sulit Diajak Foto Bagus 8 Foto Album Artis Al Ghazali Alyssa Daguise KAPANLAGI NETWORK KAPANLAGI MERDEKA LIPUTAN6 FIMELA OTOSIA BOLA.NET DREAM.CO.ID MORE BRILIO.NET BOLA.COM FAMOUS.ID Facebook Twitter Youtube Google Plus Instagram Newsletter Rss IKLAN KONTAK DISCLAIMER PRIVACY KODE ETIK KAMI PEDOMAN MEDIA SIBER REDAKSI RSS KARIR SITEMAP Copyright © 2024 kapanlagi.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved
Al-Ghazali – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Lompat ke isi Menu utama Menu utama pindah ke bilah sisi sembunyikan Navigasi Halaman Utama Daftar isi Perubahan terbaru Artikel pilihan Peristiwa terkini Halaman baru Halaman sembarang Komunitas Warung Kopi Portal komunitas Bantuan Wikipedia Tentang Wikipedia Pancapilar Kebijakan Menyumbang Hubungi kami Bak pasir Bagikan Pencarian Cari Buat akun baru Masuk log Perkakas pribadi Buat akun baru Masuk log Halaman penyunting yang telah keluar log pelajari lebih lanjut Kontribusi Pembicaraan Daftar isi pindah ke bilah sisi sembunyikan Awal 1 Pelafalan Nama Al-Ghazali 2 Kelahiran 3 Keluarga 4 Pendidikan Gulingkan subbagian Pendidikan 4.1 Tasawuf 4.2 Filsafat 4.3 Logika 5 Pemikiran tentang teologi Gulingkan subbagian Pemikiran tentang teologi 5.1 Ilmu kalam 5.2 Tasawuf 6 Pemikiran tentang filsafat Gulingkan subbagian Pemikiran tentang filsafat 6.1 Filsafat alam 7 Pemikiran tentang pendidikan Gulingkan subbagian Pemikiran tentang pendidikan 7.1 Pendidikan dan pengajaran 7.2 Kurikulum 7.3 Pendidikan karakter 7.4 Pendidikan akidah 8 Karya Gulingkan subbagian Karya 8.1 Ayyuha al-Walad 8.2 Ihya Ulumuddin 9 Referensi Gulingkan subbagian Referensi 9.1 Catatan kaki 9.2 Daftar pustaka 10 Bacaan lanjutan 11 Pranala luar Gulingkan daftar isi Al-Ghazali 114 bahasa Afrikaans Alemannisch አማርኛ Aragonés العربية مصرى Asturianu Azərbaycanca تۆرکجه Башҡортса Žemaitėška Беларуская Беларуская (тарашкевіца) Български বাংলা Brezhoneg Bosanski Català Нохчийн کوردی Čeština Cymraeg Dansk Deutsch Zazaki Ελληνικά English Esperanto Español Eesti Euskara فارسی Suomi Français Gaeilge Gàidhlig Galego Avañe'ẽ Bahasa Hulontalo Hausa עברית हिन्दी Fiji Hindi Hrvatski Magyar Հայերեն Ilokano Íslenska Italiano 日本語 Jawa ქართული Қазақша 한국어 Kurdî Kernowek Кыргызча Latina Lombard Lietuvių Latviešu Malagasy Minangkabau Македонски മലയാളം Bahasa Melayu Plattdüütsch Nederlands Norsk nynorsk Norsk bokmål Occitan ਪੰਜਾਬੀ Polski Piemontèis پنجابی پښتو Português Română Русский Русиньскый سنڌي Srpskohrvatski / српскохрватски Simple English Slovenčina سرائیکی Slovenščina Soomaaliga Shqip Српски / srpski Sunda Svenska Kiswahili தமிழ் తెలుగు Тоҷикӣ ไทย Türkmençe Tagalog Türkçe Татарча / tatarça Тыва дыл ئۇيغۇرچە / Uyghurche Українська اردو Oʻzbekcha / ўзбекча Tiếng Việt Walon Winaray Wolof 吴语 მარგალური ייִדיש 中文 粵語 Sunting pranala Halaman Pembicaraan Bahasa Indonesia Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Perkakas Perkakas pindah ke bilah sisi sembunyikan Tindakan Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat Umum Pranala balik Perubahan terkait Halaman istimewa Pranala permanen Informasi halaman Kutip halaman ini Lihat URL pendek Unduh kode QR Butir di Wikidata Cetak/ekspor Buat buku Unduh versi PDF Versi cetak Dalam proyek lain Wikimedia Commons Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan . Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya . Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Al-Ghazali" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR Artikel ini perlu diterjemahkan dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Artikel ini ditulis atau diterjemahkan secara buruk dari Wikipedia bahasa Melayu . Jika halaman ini ditujukan untuk komunitas bahasa Melayu , halaman itu harus dikontribusikan ke Wikipedia bahasa Melayu . Lihat daftar bahasa Wikipedia . Artikel yang tidak diterjemahkan dapat dihapus secara cepat sesuai kriteria A2 . Jika Anda ingin memeriksa artikel ini, Anda boleh menggunakan mesin penerjemah. Namun ingat, mohon tidak menyalin hasil terjemahan tersebut ke artikel, karena umumnya merupakan terjemahan berkualitas rendah . "Al Ghazali" beralih ke halaman ini. Untuk pemeran Indonesia, lihat Al Ghazali (pemeran) . Al-Ghazālī (الغزالي) Algazel Lahir 1058 Tus, Iran , Kesultanan Seljuk Raya Meninggal 1111 Thus, Khorasan Kesultanan Seljuk Raya Era Zaman keemasan Islam Kawasan Filosof Islam Aliran Ahlus Sunnah, Asy'ariyah , Hujjatul islam , Syafi'i Minat utama Teologi , Filsafat Islam , Fikih , Sufisme , Mistisisme , Psikologi , Logika , Kosmologi Gagasan penting skeptisisme , okasionalisme Dipengaruhi Al-Qur'an , Muhammad , Imam Syafi'i , Abu al-Hasan al-Asy'ari , al-Juwayni , Avicenna Memengaruhi Ibnu Rusyd , Nicholas of Autrecourt , Aquinas , Abdul-Qader Bedil , Descartes , Maimonides , Ramón Martí , Fakhruddin Razi , Ahmad Sirhindi , Shah Waliullah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i ( Arab : ابو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي الشافعي ) (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. [1] [2] [3] Ia berkuniah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. [ butuh rujukan ] Gelar dia al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus , Khurasan , Persia (kini Iran ). Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa dia bermazhab Syafi'i. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. [4] [5] [6] Ia pernah memegang jabatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah , pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya. Ia dianggap sebagai Mujaddid abad ke-5, seorang pembaru iman; yang, menurut hadis kenabian, muncul setiap 100 tahun sekali untuk memulihkan iman Komunitas Islam. Karya-karyanya sangat diakui oleh orang-orang sezamannya sehingga al-Ghazali dianugerahi gelar kehormatan "Bukti Islam" ( Hujjat al-Islam ). [7] [8] Al-Ghazali percaya bahwa tradisi spiritual Islam telah hampir mati dan bahwa ilmu-ilmu spiritual yang diajarkan oleh generasi pertama umat Islam telah dilupakan. Keyakinan ini mendorongnya untuk menulis magnum opusnya yang berjudul Ihya Ulumuddin ( translit. Kebangkitan Ilmu Pengetahuan Agama ). Di antara karya-karyanya yang lain, Tahafut al-Falasifah ( Incoherence of the Philosophers translit. Inkohorensi Para Filsuf ) adalah tengara dalam sejarah filsafat, karena memajukan kritik terhadap sains Aristotelian yang dikembangkan kemudian di Eropa abad ke-14. [9] Pelafalan Nama Al-Ghazali [ sunting | sunting sumber ] Yang lebih tepat sebenarnya adalah melafalkannya Al-Ghozali ( الْغَزَالِيُّ ), yakni dengan tidak mentasydidkan huruf zay. Alasannya, lafaz Al-Ghazali berasal dari kata Ghaza ( الْغَزَ ) nama sebuah desa kecil di thus. Al-Ghozali dinisbatkan pada kampung kelahiranya Ghaza, kota Thus. Laqob ini sama seperti orang yang diberi gelar Al-Bukhari yang berarti Kota bukhara Dan lain sebagainya. Putrinya berkata berkata: Sungguh celaka orang yang memberikan gelar Al-Ghazzali kepada ayah kami. [10] ” Kelahiran [ sunting | sunting sumber ] Al-Ghazali lahir di Tus, Khurasan . Wilayah kelahirannya dekat dengan Meshded. Pada masa lalu, wilayah ini merupakan bekas Kekaisaran Persia . Al-Ghazali hidup dalam masa pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah yang memerintah daerah ini sejak abad ke-8 Masehi. Wilayah tempat tinggal al-Ghazali merupakan tempat berkumpul dari para penyair, dan penulis sekaligus pengajar keagamaan. [11] Masa kelahiran al-Ghazali sudah dikategorikan dalam masa kemunduran kekuatan Islam dalam pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah . Pada masa ini banyak terjadi konflik internal yang berlangsung lama dan terus berlanjut. [12] Tus yang menjadi tempat kelahiran dari al-Ghazali merupakan sebuah kota yang berukuran besar. Kota ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan tata ruang bangunan yang rapi. Jumlah penduduknya lebih banyak dari dua kota di dekatnya, yaitu Thabaristan dan Nawqan. Lingkungan kota Tus dikelilingi oleh pepohonan yang tumbuh dengan subur. Sekeliling kota merupakan wilayah pengunungan yang mengandung banyak mineral. [11] Perkampungan tempat kelahiran al-Ghazali bernama Ghazaleh. Al-Ghazali lahir pada tahun 450 Hijriah atau sekitar tahun 1059 Masehi. [13] Keluarga [ sunting | sunting sumber ] Ayah dari al-Ghazali bekerja sebagai pemintal dan penjual wol. Ayahnya dikenal sebagai orang yang memiliki pengabdian dalam menuntu ilmu agama. Ketika memiliki waktu luang sehabis bekerja, ia selalu mendatangai para tokoh agama dan para ahli fikih untuk mendengarkan nasihat-nasihat. Sifat dan kepribadian ayahnya kurang diketahui. Ketika masih dalam usia anak-anak, ayahnya wafat. Ia meninggalkan al-Ghazali bersama saudara kandung laki-lakinya yang bernama Ahmad. [14] == Sifat Pribadi == adrianto bin utsi bin aya Al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat. Dalam memberikan argumentasi , ia bersikap bijak. Karena kemampuan tersebut, ia diberi gelar sebagai Hujjatul Islam . Ia sangat dihormati di dua pusat kekuasaan Islam pada masanya, yaitu Dinasti Seljuk dan Dinasti Abbasiyah. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu dan pengetahuan sehingga ia menguasai banyak bidang ilmu. Dalam menuntu ilmu, ia melakukan kegiatan pengembaraan dengan meninggalkan seluruh kesenangan hidup yang dimilikinya. [15] Sebelum dia memulai pengembaraan, dia telah mempelajari karya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami . Imam al-Ghazali telah mengembara selama 10 tahun. Ia telah mengunjungi tempat-tempat suci di daerah Islam yang luas seperti Mekkah , Madinah , Jerusalem dan Mesir . Ia terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi dia telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan dia benci kepada sifat riya , megah, sombong, takabur dan sifat-sifat tercela yang lain. Ia sangat kuat beribadat, wara', zuhud dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan, kemegahan dan mencari sesuatu untuk mendapat ridha Allah SWT. Pendidikan [ sunting | sunting sumber ] Pendidikan dari al-Ghazali sangat diperhatikan oleh ayahnya. Ayahnya sendiri tidak dapat membaca dan keluarganya hidup dalam kemiskinan. Sebelum kematian ayahnya, al-Ghazali dititipkan kepada salah seorang sahabatnya agar mengurus persoalan pendidikan dari al-Ghazali dan saudaranya yang bernama Ahmad. [16] Al-Ghazali menempuh pendidikan dasar di kota Tus. [13] Ia mulai belajar ilmu agama tingkat dasar dari seorang guru bernama Ahmad bin Muhammad Razkafi. [16] Pada tingkat dasar, dia mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan dia menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, dia mula mempelajari ilmu ushuluddin , ilmu mantiq , usul fiqih , filsafat , dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, dia melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih , Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur . Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, dia telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiyah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian dia dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Ia telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah , Madinah , Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, dia menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah. Tasawuf [ sunting | sunting sumber ] Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), [17] merupakan karyanya yang terkenal Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan) [18] Misykah al-Anwar (The Niche of Lights) Filsafat [ sunting | sunting sumber ] Maqasid al-Falasifah Tahafut al-Falasifah , [19] buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rusyd Logika [ sunting | sunting sumber ] Mi`yar al-Ilm ( The Standard Measure of Knowledge ) Al-Qistas al-Mustaqim ( The Just Balance ) Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq ( The Touchstone of Proof in Logic) Pemikiran tentang teologi [ sunting | sunting sumber ] Ilmu kalam [ sunting | sunting sumber ] Pengetahuan awal dari al-Ghazali berasal dari gurunya yang bernama al-Juwaini. Karena pengajaran dari gurunya, ia menjadi ragu-ragu dengan ilmu kalam . Pada masa hidupnya, terdapat banyak aliran pemikiran mengenai ilmu kalam. Masing-masing aliran ini memiliki pemikiran yang bertentangan. Hal inilah yang membuat al-Ghazali ragu mengenai kebenaran ilmu kalam dari masing-masing aliran pemikiran tersebut. Keraguan dan pencarian kebenaran ini dikemukakannya dalam kitabnya yang berjudul al-Munqiz min al-Dalal. Ia menyebutkan di dalam kitabnya ini bahwa kebenaran yang dicarinya adalah kebenaran mutlak. Kebenaran ini diumpamakannya seperti hasil mutlak dari angka yang sudah pasti memiliki kedudukan yang lebih tinggi dengan angka lain yang nilainya lebih kecil. [20] Tasawuf [ sunting | sunting sumber ] Al-Ghazali merupakan salah satu penganut sufisme pada abad ke-5 Hijriah. Kecenderungannya kepada sufisme didasari oleh kehidupannya yang terbagi menjadi dua gaya hidup . Pada masa mudanya, al-Ghazali menekuni ilmu dengan semangat yang tinggi hingga akhirnya menjadi pengajar di Perguruan Nizamiyah. Kehidupannya saat itu diliputi dengan kekayaan. Setelah ia memperoleh kekayaan dan jabatan, ia mulai meragukan keadaannya tersebut. Al-Ghazali mengalami perubahan kehidupan setelah ia mengalami pengalaman tasawuf. Gaya hidup keduanya diliputi oleh ketenangan dan ketenteraman dengan menjadi penulis. Pada gaya hidup keduanya ini, ia banyak menulis tentang tasawuf. [20] [21] Al-Ghazali membagi perjalanan untuk menjadi sufi menjadi enam tahap. Tahap pertama adalah pertobatan . Persyaratan yang perlu dipenuhi untuk pertobatan adalah adanya ilmu, sikap, dan tindakan. Ilmu berupa pengetahuan tentang bahaya yang diakibatkan oleh dosa besar . Ilmu ini kemudian mengakibatkan sikap penyesalan dan kesedihan yang kemudian berubah menjadi tindakan untuk bertobat. Pertobatan ini dilakukan dengan kesadaran yang disertai tekad untuk todak mengulangi perbuatan dosa. Tahap kedua adalah kesabaran. Al-Ghazali membagi jiwa manusia menjadi tiga daya, yaitu daya nalar, daya berbuat baik, dan daya berbuat jahat. Kesabaran dicapai oleh seseorang jika daya berbuat baik dapat mempengaruhi daya berbuat jahat. Tahapan ketiga adalah kefakiran. Ia mengartikannya sebagai usaha untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diperlukan. Setiap keperluan yang merupakan kebutuhan harus diteliti dengan seksama mengenai kehalalan, keharaman dan kemubahannya. Kebutuhan yang haram atau meragukan harus ditinggalkan meskipun diperlukan. Tahapan keempat adalah zuhud. Zuhud diartikan sebagai upayameninggalkan kesenangan duniawi dan hanya mengharapkan kesenangan ukhrawi. Tahapan kelima adalah tawakal . Tahapan ini dapat dicapai dengan meyakini secara teguh bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Pemurah serta Maha Adil. Pencapaian tahapan ini dilakukan dengan berserah diri sepenuhnya kepada keputusan Allah terhadap manusia. Tahapan keenam adalah makrifat . Pada tahapan ini, manusia diyakini telah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan-Nya tentang segala yang ada. Tingkat pengetahuan makrifat lebih tinggi dibandingkan pengetahuan yang diperoleh oleh akal. Puncak dari makrifat adalah timbulnya perasaan mencintai Tuhan. [22] Pemikiran tentang filsafat [ sunting | sunting sumber ] Filsafat alam [ sunting | sunting sumber ] Al-Ghazali merupakan salah satu filsuf muslim klasik. Ia menolak pernyataan dari filsuf muslim klasik lainnya yang mengatakan bahwa alam itu tidak berawal. Pernyataan ini dikemukakan oleh Ibnu Sina dan al-Farabi . Pandangan ini membuat al-Ghazali menganggap kedua tokoh ini telah kafir. Al-Ghazali menyampaikan hal ini dalam Tahafut al-Falasifah disertai dengan argumentasi dan dalil yang kuat. [23] Pemikiran tentang pendidikan [ sunting | sunting sumber ] Pendidikan dan pengajaran [ sunting | sunting sumber ] Dalam pemikiran al-Ghazali, pengajaran dan pendidikan merupakan penyebab manusia memperoleh derajat yang tinggi di antara makhluk ciptaan lainnya di Bumi. Manusia menjadi terhormat karena memiliki ilmu dan amal. [24] Kurikulum [ sunting | sunting sumber ] Al-Ghazali menyusun sebuah organisasi dalam kurikulum yang disebut kurikulum inti. Kurikulum ini berlaku bagi keagamaan maupun keduniawian. Dalam pandangan Al-Ghazali, mata pelajaran di dalam kurikulum bersifat terpisah. Masing-masing mata pelajaran memiliki subjek yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Namun, masing-masing tetap memiliki hubungan satu sama lain. Al-Ghazali menganggap bahwa ilmu merupakan bagian-bagian yang terpisah yang tersusun menjadi sebuah kesatuan. Ia membagi ilmu fardu kifayah , ilmu fardu ain dan ilmu mubah . Tujuan pembagian ilmu ini sebagai bentuk pemilihan pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat muslim dan pengatahuan yang menjadi syarat untuk mempelajari dan melengkapinya. [25] Al-Ghazali menetapkan ilmu-ilmu pokok keagamaan sebagai ilmu fardu ain. Ilmu ini menjadi pusat perhatian utama dalam pendidikan . Ilmu fardu ain ini menjadi pengarah dan pengendali bagi pengembangan bidang keilmuan yang lainnya. Sedangkan ilmu fardu kifayah dan ilmu mubah menjadi dasar bagi pengembangan ilmu yang lainnya. [26] Pendidikan karakter [ sunting | sunting sumber ] Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh Islam yang sangat memperhatikan pendidikan karakter . Ia menyatakan bahwa pendidikan Islam harus mengaktifkan potensi rohani dari peserta didik bersama dengan potensi jasmani yang dimilikinya. Pemikiran-pemikiran dari al-Ghazali mengenai pendidikan karakter dikemukakannya dalam karya-karyanya, antara lain yaitu Ihya Ulumuddin dan Ayyuha al-Walad . Pembahasan yang lengkap mengenai pendidikan karakter disampaikannya dalam Ayyuha al-Walad. [27] Al-Ghazali meyakini bahwa pendidikan karakter merupakan inti dari pendidikan. Ia memperingatkan kepada para pendidik agar tidak berucap sesuatu yang tidak sesuai dengan tindakannya. Al-Ghazali mengutamakan pendidikan akhlak yang mulai dan penghindaran akhlak yang buruk. Teladan dalam pendidikan akhlak ini adalah Nabi Muhammad . [27] Al-Ghazali meyakini bahwa perbuatan anak-anak ditentukan oleh kebiasaan yang diajarkan kepadanya. Bila ia dibiasakan untuk berbuat baik, maka ia akan melakukan perbuatan baik. Sebaliknya, jika ia dibiasakan berbuat buruk, maka ia akan melakukan perbuatan buruk. [28] Pendidikan akidah [ sunting | sunting sumber ] Menurut al-Ghazali, pendidikan akidah harus dicegah dari timbulnya kesesatan . Karenanya. pendidikan harus memiliki strategi pembelajaran yang tepat. Al-Ghazali menolak pendapat dari mazhab Muktazilah mengenai kewajiban semua orang untuk berdebat mengenai akidah dalam konteks ilmu kalam. Hal ini ditolaknya karena al-Ghazali meyakini bahwa ilmu kalam yang dikaji oleh orang awam akan menimbulkan kebingungan bagi dirinya sendiri. Al-Ghazali tidak mengharamkan ilmu kalam, karena menurutnya ilmu ini dapat mengarahkan akidah seseorang dalam pencegahan dari kelompok ahli bidah atau kelompok pemikiran selain Islam. [29] Dalam pembelajaran akidah, al-Ghazali memberikan sebuah metode khussu bagi anak kecil dan bagi orang awam. Ia mengajarkan akidah dengan menggunakan ayat Al-Qur’an dan hadis yang penyampaiannya dilakukan dengan retorika yang tepat. Ia melarang pembelajaran ilmu kalam bagi orang yang tidak memenuhi persyaratan keilmuan untuk mempelajarinya. [30] Karya [ sunting | sunting sumber ] Ayyuha al-Walad [ sunting | sunting sumber ] Ayyuha al-Walad merupakan karya dari al-Ghazali yang berisi nasihat dalam membedakan jenis ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Nasihat ini khususnya ditujukan kepada para pelajar. [31] Ihya Ulumuddin [ sunting | sunting sumber ] Lihat pula: Ihya Ulumuddin Karya besar al-Ghazali lainnya adalah Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Agama). Ini mencakup hampir semua bidang ilmu Islam: fikih (yurisprudensi Islam), ilmu kalam (teologi) dan tasawuf . Karya ini berisi empat bagian utama: Tindakan ibadah ( Rub' al-'ibadat ), Norma Kehidupan Sehari-hari ( Rub' al-'adatat ), Jalan menuju Kebinasaan ( Rub' al-muhlikat ), dan Jalan Menuju Keselamatan ( Rub' al-munjiyat ). Ihya menjadi teks Islam yang paling sering dibaca setelah Al-Qur'an dan hadis . Prestasi besarnya adalah menyatukan teologi ortodoks Suni dan mistisisme Sufi dalam panduan yang bermanfaat dan komprehensif untuk setiap aspek kehidupan dan kematian Muslim. [32] Buku ini diterima dengan baik oleh para cendekiawan Islam seperti al-Nawawi yang menyatakan bahwa: “Seandainya kitab-kitab Islam akan hilang, kecuali hanya Ihya', cukuplah untuk menggantikan semuanya.” [33] Referensi [ sunting | sunting sumber ] Catatan kaki [ sunting | sunting sumber ] ^ Christian D. Von Dehsen (1999). Philosophers and Religious Leaders: Volume 2 dari Lives and Legacies . Greenwood Publishing Group. hlm. 75 . ISBN 978-157-356-152-5 . ^ Hermawan (1997). Al-Ghazali . Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. vii. ISBN 979-902-308-4 . Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( |author= yang disarankan) ( bantuan ); Parameter |Location= yang tidak diketahui mengabaikan ( |location= yang disarankan) ( bantuan ) ^ (Indonesia) Husaini, Adian (2006). Hegemoni Kristen-Barat dalam studi Islam di perguruan tinggi . Gema Insani. hlm. 9. ISBN 9795600982 . Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-02 . Diakses tanggal 2011-05-27 . ISBN 978-979-560-098-5 ^ Jane I. Smith, Islam in America , p. 36. ISBN 0231519990 ^ Dhahabi, Siyar, 4.566 ^ Willard Gurdon Oxtoby, Oxford University Press, 1996, p 421 ^ Sonn, Tamara (1996-10-10). Interpreting Islam: Bandali Jawzi's Islamic Intellectual History (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 30 . ISBN 9780195356564 . Ghazali Revival ihya. ^ Böwering, Gerhard; Crone, Patricia; Mirza, Mahan; Kadi, Wadad; Zaman, Muhammad Qasim; Stewart, Devin J. (2013). The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Thought (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm. 191. ISBN 978-0691134840 . ^ Griffel, Frank (2016). Zalta, Edward N., ed. The Stanford Encyclopedia of Philosophy (edisi ke-Winter 2016). Metaphysics Research Lab, Stanford University. ^ Djamaludin, Mahbub (2018). Imam Al-Ghazali Sang Ensiklopedia Zaman . Sukmajaya: Penerbit Senja. hlm. 27–29. ISBN 978-602-71822-1-9 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) ^ a b Smith, Margareth (2000). Pemikiran dan Doktrin Mistis Imam Al-Ghazali (PDF) . Jakarta: Riora Cipta. hlm. 1. ISBN 979-95936-0-3 . Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2018-11-03 . Diakses tanggal 2022-03-03 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) ^ Zaini 2016 , hlm. 149. ^ a b Saepuddin 2019 , hlm. 17. ^ Zaini 2016 , hlm. 150. ^ Zaini 2016 , hlm. 152. ^ a b Saepuddin 2019 , hlm. 18. ^ (Arab) —–. Ihya Ulumuddin Diarsipkan 2007-04-17 di Wayback Machine . ( pranala unduhan Diarsipkan 2007-04-17 di Wayback Machine ., unduhan 5.33 MB Diarsipkan 2007-04-03 di Wayback Machine .). ^ (Inggris) —–. The Alchemy of Happiness Diarsipkan 2005-01-16 di Wayback Machine . . Translator: Claud Field (1863-1941). Northbrook Society. 1909. ^ (Inggris) Marmura. Al-Ghazali The Incoherence of the Philosophers (2nd edition). Printing Press, Brigham. ISBN 0-8425-2466-5 . ^ a b Zaini 2016 , hlm. 148. ^ Busro, Busro (2017). "Doktrin Mistisisme Al-Ghazali (Sufisme sebagai Etape Perjalanan Spiritual)" . Syifa Al-Qulub . 2 (1): 35–46. doi : 10.15575/saq.v2i1.2392 . ^ Zaini 2016 , hlm. 153-154. ^ Nuruddin, Muhammad (2021). Ilmu Maqulat dan Esai-Esai Pilihan Seputar Logika, Kalam dan Filsafat . Depok: Keira. hlm. 33. ISBN 978-623-7754-24-4 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) ^ Saepuddin 2019 , hlm. 14. ^ Sabda 2008 , hlm. 101. ^ Sabda 2008 , hlm. 101-102. ^ a b Saepuddin 2019 , hlm. V. ^ Saepuddin 2019 , hlm. 12. ^ Romadlon dan Septi 2020 , hlm. 1. ^ Romadlon dan Septi 2020 , hlm. 2. ^ Saepuddin 2019 , hlm. 13-14. ^ Hunt Janin, The Pursuit of Learning in the Islamic World 610-2003, p 83. ISBN 0786429046 ^ Joseph E. B. Lumbard, Islam, Fundamentalism, and the Betrayal of Tradition: Essays by Western Muslim Scholars, p. 291. ISBN 0941532607 Daftar pustaka [ sunting | sunting sumber ] Romadlon, D. A., dan Septi, D. (2020). Fahyuni, Eni Fariyatul, ed. Membenarkan Allah dalam Iman: Membaca Aqidah dengan Nalar Kritis . Sidoarjo: UMSIDA Press. ISBN 978-623-6833-40-7 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link ) Sabda, Syaifuddin (2008). Konsep Kurikulum Pendidikan Islam: Refleksi Pemikiran Al-Ghazali (PDF) . Banjarmasin: Antasari Press. Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) Saepuddin (2019). Saepuddin dan Septian, D., ed. Konsep Pendidikan Karakter dan Urgensinya dalam Pembentukan Pribadi Muslim Menurut Imam Al-Ghazali: Telaah atas Kitab Ayyuha al Walad Fi Nashihati al Muta’allimin Wa Mau’izhatihim Liya’lamuu Wa Yumayyizuu ‘Ilman Nafi’an (PDF) . Bintan: STAIN Sultan Abdurrahman Press. ISBN 978-623-91002-1-6 . Parameter |url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan ) Zaini, Ahmad (2016). "Pemikiran Tasawuf Imam Al-Ghazali" . Esoterik: Jurnal Akhlak dan Tasawuf . 2 (1). Bacaan lanjutan [ sunting | sunting sumber ] Laoust, H: La politique de Gazali, 1970. Campanini, M.: Al-Ghazzali, in S.H. Nasr and O. Leaman, History of Islamic Philosophy 1996. Watt, W M.: Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali, Edinburgh 1963. Pranala luar [ sunting | sunting sumber ] (Inggris) Al-Ghazali Web Site l b s Ulama – Ulama Ahli Fiqih Mazhab Syafi'i Abad ke-3 H Imam Asy-Syafi'i (wafat 204 H) • Imam Ahmad (wafat 241 H) • Imam Bukhari (wafat 256 H) • Imam Abu Dawud (wafat 275 H) • Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H) • Syeikh Juneid al-Bagdadi (wafat 298 H) Abad ke-4 H Imam An-Nasa'i (wafat 303 H) • Abu Hasan al Asy'ari (wafat 324 H) • Ibnul Haddad (wafat 345 H) • Ar-Razi (wafat 347 H) • Ibnul Qathan (wafat 359 H) • Ibnul Bahran (wafat 361 H) • Al-Qaffal al-Kabir (wafat 366 H) • Ad-Daruquthni (wafat 385 H) • Al-Isma'ili (wafat 392 H) • Al-Qadhi Al-Jurjani (wafat 392 H) • As-Susi (wafat 396 H) • Ibnu Laal (wafat 398 H) Abad ke-5 H Al-Lalika'i (wafat 416 H) • Al-Mawardi (wafat 450 H) • Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H) Abad ke-6 H Imam Al-Ghazali (wafat 505 H) • Imam Al-Baghawi (wafat 516 H) • Ibnu Asakir (wafat 576 H) • Abu Syuja (wafat 593 H) Abad ke-7 H Al-Mundziri (wafat 656 H) • Imam An-Nawawi (wafat 676 H) • Imam Ar-Rafi'i (wafat 623 H) • Ibnu Malik (wafat 672 H) • Al-Baidhawi (wafat 691 H) • Syaikh Ibrahim ad Dasuqi (wafat 696 H) Abad ke-8 H Ibnu Katsir (wafat 774 H) • Ibnu Daqiq al-Ied (wafat 702 H) • Quthbuddin asy-Syirazi (wafat 710 H) • Taqiyuddin as-Subki (wafat 756 H) • Az-Zarkasyi (wafat 794 H) Abad ke-9 H Ibnu Al-Mulaqqin (wafat 804 H) • Ibnu Ruslan (wafat 844 H) • Ibnu Hajar Al 'Asqalani (wafat 852 H) • Jalaluddin al-Mahalli (wafat 864 H) • Imamul Kamiliyah (wafat 874 H) Abad ke-10 H Jamaluddin An-Nasyiri (wafat 911 H) • Imam As-Suyuthi (wafat 911 H) • Jalaluddin al-Karaki (wafat 912 H) • Ibnu Abi Syarif (wafat 923 H) • Abul Fatah al-Mishri (wafat 963 H) • Hasanuddin (wafat 964 H) • Ibnu Qassim al-'Ubaidi (wafat 994 H) • Mirza Makhdum (wafat 995 H) Abad ke-11 H Nuruddin al-Raniri (wafat 1068 H) • Syamsuddin as-Syaubari (wafat 1069 H) • Syihabuddin al-Qaliyubi (wafat 1070 H) • Abdul Birri al-Ajhuri (wafat 1070 H) • Al-'Urdli (wafat 1071 H) • Ibnu Jamal al-Makki (wafat 1072 H) • Al-Qinai (wafat 1073 H) • Ibrahim al-Marhumi (wafat 1073 H) • Muhammad al-Bathini (wafat 1075 H) • Muhammad al-Kurani (wafat 1078 H) • Ibrahim al-Maimuni (wafat 1079 H) • Abdul Qadir as-Shafuri (wafat 1081 H) • Ibnu Jam'an (wafat 1083 H) • Ibrahim al-Khiyari (wafat 1083 H) • Al Kurdi (wafat 1084 H) • 'Al al-Ayyubi (wafat 1086 H) • Muhammad al-Bakri (wafat 1087 H) • Abdul Rauf al-Fanshuri (wafat 1094 H) Abad ke-12 H Abdullah bin Alawi al-Haddad (wafat 1123 H) • Muhammad al-Kurani (wafat 1145 H) • Al 'Ajaluni (wafat 1148 H) • Hasan al-Bani (wafat 1148 H) • As-Safar Jalani (wafat 1150 H) • Ad-Diri (wafat 1151 H) • As-Suwaidi (wafat 1143 H) • Zainuddin ad-Dirbi (wafat 1155 H) • Al-Busthami (wafat 1157 H) • Athaulah al-Azhari (wafat 1161 H) Abad ke-13 H Abdus Shamad al-Falimbani (wafat 1203 H) • Muhammad Arsyad al-Banjari (wafat 1227 H) • Al-Yamani (wafat 1201 H) • Ahmad al-Khalifi (wafat 1209 H) • Al-Baithusyi (wafat 1211 H) • At-Takriti (wafat 1211 H) • Ibnu Jauhari (wafat 1215 H) • Ad-Damanhuri (wafat 1221 H) Abad ke-14 H Abdul Karim Tebuwung (wafat 1313 H) • Nawawi al-Bantani (wafat 1315 H) • Ahmad Khatib al-Minangkabawi (wafat 1334 H) • Muhammad Saad Munqa (wafat 1339 H) • Syeikh Muhammad Saleh al-Minankabawi (wafat 1351 H) • Syeikh Khatib 'Ali (wafat 1353 H) • Muhammad Jamil Jaho (wafat 1360 H) • Hasjim Asy'ari (wafat 1367 H) • Abdul Wahid Tabek Gadang (wafat 1369 H) • Musthafa Husein al-Mandili (wafat 1370 H) • Dimyathi Syafi'ie (wafat 1378 H) • Abdul Qadir bin Abdul Mutalib al-Mandili (wafat 1385 H) • Al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (wafat 1388 H) • Habib Salim bin Djindan (wafat 1389 H) • Sulaiman ar-Rasuli (wafat 1390 H) • Abdul Wahab Hasbullah (wafat 1391 H) • Al-Habib Ali bin Husein al-Attas (wafat 1396 H) Abad ke-15 H Syeikh Muhammad Yasin al-Fadani (wafat 1410 H) • Muhammad Zaini Abdul Ghani (wafat 1426 H) • Al-Habib Munzir bin Fuad al-Musawa (wafat 1434 H) • Sahal Mahfudz (wafat 1435 H) • Wahbah al-Zuhayli (wafat 1436 H) Cetak tebal adalah yang sangat terkemuka di zamannya, metode penentuan abad seorang ulama dengan tahun kematiannya , Lihat Panduan Penggunaan Wikimedia Commons memiliki media mengenai Al-Ghazali . Diperoleh dari " https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Al-Ghazali&oldid=25106406 " Kategori : Halaman yang menggunakan infobox philosopher dengan parameter tidak diketahui Kelahiran 1058 Kematian 1111 Meninggal usia 53 Ulama Sunni Filsuf Islam Cendekiawan Muslim Mazhab Syafi'i Ulama Syafi'i Abad ke-6 H Kategori tersembunyi: Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung CS1 sumber berbahasa Inggris (en) Templat webarchive tautan wayback Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan Artikel yang membutuhkan referensi tambahan Januari 2024 Artikel yang perlu diterjemahkan dari bahasa Melayu Artikel yang perlu diterjemahkan dari bahasa Melayu Januari 2024 Halaman Wikipedia yang tidak diindeks Articles with hCards Artikel mengandung aksara Arab Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Januari 2024 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list Semua artikel biografi Artikel biografi Januari 2024 Pranala kategori Commons ada di Wikidata Halaman ini terakhir diubah pada 1 Januari 2024, pukul 04.23. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons ; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian lebih lanjut. Kebijakan privasi Tentang Wikipedia Penyangkalan Kode Etik Pengembang Statistik Pernyataan kuki Tampilan seluler Gulingkan lebar konten terbatas